Ngecok memang tak asing bagi ‘aktivis’ lapangan di Pangkalpinang. Kata ini terkesan begitu familiar bagi mereka, tentunya bagi saja juga. Bahkan beberapa teman, termasuk saya juga sering menggunakan istilah ini untuk memberikan sindirian kepada seorang teman ketika ia bertandang ke suatu tempat. Apakah kamu juga memahami istilah ini?
Seorang pelajar SMK di Pangkalpinang sengaja saya tanya apakah ia memahami istilah ngecok. Walau sempat berpikir, akhirnya ia memberikan jawaban tak tahu. Saya bisa paham mengapa ia tak mengetahui istilah itu, karena ia masih berstatus pelajar dan memang pergaulannya belum banyak bersentuhan dengan kehidupan ‘aktivis’ di lapangan.
Sementara seorang kepala SD di Pangkalpinang ketika tanya istilah itu dengan lantang menjawab tahu. “Ngecok itu meres,” katanya lantang. Saya menduga jangan-jangan, kepala sekolah ini pernah menjadi korban dari para pengecok. Semoga saja tidak. Sebab tak etis juga saya harus melanjutkan pertanyaan apakah ia pernah menjadi korban para pengecok. Read the rest of this entry