Anakku Menulis Puisi

Standar

GambarBeberapa hari lalu, puteriku menunjukkan puisi yang ia tulis. Aku terperangah, kapan ia menulisnya!

Puisi itu ia tulis di dua lembar kertas bergaris. Ia tulis menggunakan pensil, yang sudah barang tentu tulisannya tidak lah rapi. Untuk kerapian saya  harap maklum untuk usianya. Kemakluman saya juga saya akui dengan kerapian tulisan saya. Kalau ayahnya saja tulisannya tidak rapi, bagaimana dengan anaknya.

Namun saya tidak mempersoalkan kerapian tulisan tersebut. Yang penting bagi saya adalah ada keinginan dari anak saya untuk menulis puisi. Saya juga tidak mempersoalkan bagaimana kualitas tulisannya. Yang penting bagi saya ia sudah berniat untuk menulis.

Ia tergerak untuk menulis puisi, mungkin karena ia sering membaca puisi anak-anak yang dimuat di Majalah Bobo. Majalah ini awalnya dibelikan setiap seminggu sekali oleh istri saya. Namun, kini kami berlangganan biar untuk memudahkan saja.

Keinginan saya ia akan terbiasa untuk menulis. Menulis apapun. Selamat Nak, semoga akan ada lagi tulisan-tulisanmu.

Ibu

Ibuku baik hati

Wajah ibuku berseri seri

Ku dirawat setiap hari

Makanku selalu dijaga

Ibuku suka bercerita

Cerita selalu menarik hati

Aku senang mendengarnya

Hingga tertidur dibuatnya

Guru

Guru baik padaku

Bila belajar ditemaninya

Guru menjagaku saat aku selesai

Kusuka guru

Guru saat ku pindah sekalian

Kau selalu menyayangiku

Kusayang pada guruku

Ayah

Ayah kau selalu

Menyayangiku sejak kecil

Kau juga memberi namaku

Minta doa padamu

Maafkan aku selalu ada kesalahan

TEPALAK DAN SELUANG

Standar

Penghujung 2012. Sabtu, 29 Desember tepatnya, langit Pangkalpinang nampak mendung. Cuaca di setiap penghujung Desember memang selalu tak bersahabat khususnya bagi pelancong. Namun janji adalah hal penting yang harus diselesaikan, maka dengan sepeda motor yang saya beli seharga Rp. 9 juta lebih pada tahun 2006, maka saya pun melaju untuk menyelesaikan janji itu. Read the rest of this entry

Ngecok

Standar

Ngecok memang tak asing bagi ‘aktivis’ lapangan di Pangkalpinang. Kata ini terkesan begitu familiar bagi mereka, tentunya bagi saja juga. Bahkan beberapa teman, termasuk saya juga sering menggunakan istilah ini untuk memberikan sindirian kepada seorang teman ketika ia bertandang ke suatu tempat. Apakah kamu juga memahami istilah ini?

Seorang pelajar SMK di Pangkalpinang sengaja saya tanya apakah ia memahami istilah ngecok. Walau sempat berpikir, akhirnya ia memberikan jawaban tak tahu. Saya bisa paham mengapa ia tak mengetahui istilah itu, karena ia masih berstatus pelajar dan memang pergaulannya belum banyak bersentuhan dengan kehidupan ‘aktivis’ di lapangan.

Sementara seorang kepala SD di Pangkalpinang ketika tanya istilah itu dengan lantang menjawab tahu. “Ngecok itu meres,” katanya lantang.  Saya menduga jangan-jangan, kepala sekolah ini pernah menjadi korban dari para pengecok. Semoga saja tidak. Sebab tak etis juga saya harus melanjutkan pertanyaan apakah ia pernah menjadi korban para pengecok. Read the rest of this entry

PERAI

Standar

Kata itu meluncur dari mulut teman. Sungguh, kata itu sudah lama tak saya dengar. Saat ia mengucapkan kata itu, saya teringat masa kecil saya. Bagi saya dan teman-teman malam itu yang mengurus keredaksian, kata PERAI terasa membahagiakan.
PERAI dalam bahasa Bangka diartikan libur. Masyarakat Bangka dulu memang menggunakan kata PERAI dibandingkan kata libur, untuk menandai hari bebas kerja. Konteks penggunaan kalimatnya seperti ini, Isok pagi kite perai ape dak ge.” Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya kira-kira seperti ini, besok pagi kita libur atau tidak.
Namun kata itu sudah lama tak digunakan bagi kebanyakan masyarakat Bangka. Tetapi teman saya malam itu bukan salah satunya.

Memetakan Langkah untuk Menyelamatkan Bahasa Melayu Bangka

Standar

Berdasarkan catatan Multamia MT Lauder (Kompas,12 Agustus 2008), ada 169 bahasa di Indonesia yang terancam punah. Jika catatan Multamina adalah benar, maka hal ini akan menjadi hal yang mengerikan. Jika tidak ada tindakan, maka akan semakin banyak bahasa yang akan mengalami kepunahan.

 Tak cuma bahasa di Indonesia yang terancam punah, bahkan banyak juga bahasa di dunia ini  mengalami hal yang serupa. Pergerakan ke arah kepunahan itu terutama terjadi di negara-negara berkembang dan miskin.

Menurut Grimes dan Landweer yang dikutif Gufran Ali Ibrahim dalam makalahnya yang disampaikannya pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober s.d. 1 November 2008, penyebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para orangtua tak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi. Sebab yang lainnya adalah, bukan karena penuturnya berhenti bertutur, melainkan akibat dari pilihan penggunaan bahasa sebagian besar masyarakat tuturnya. Read the rest of this entry

Ada-ada Saja Ulah Si Caleg

Standar

Baliho ini benar-benar menuai tanggapan dari banyak orang. Mungkin Anda yang kebetulan melihatnya, juga akan memberikan komentar. Mungkin komentar Anda akan lebih aneh lagi.caleg

Suatu ketika saya berhenti di lampu merah. Sebuah baliho berukuran 2×2 cm berdiri tegak. Sekilas memang tak ada yang beda dengan baliho ini. Tapi setelah diperhatikan dengan saksama, sunggu benar-benar beda. Apa sebab?

Jika Anda atau saya menjadi caleg mungkin akan melakukan hal serupa. Memasang baliho di jalan-jalan, di pohon, di pagar tetangga, di lahan-lahan kosong. Pokoknya, asal ada tempat harus dipasang. Nah pada musim Pilkada ini, musim keramaian yang mengerut kening. Di mana-mana, baliho, spanduk, poster para caleg hampir menguasai lahan kota.

Untuk baliho caleg yang satu ini menampilkan bentuk dan corak yang agak aneh. Saya anggap aneh karena gambar pendukungnya ‘lucu’. Gambar pertama tentang makam bung Karno. Bahkan gambar itu didukung tulisan Makam Alm. Bung Karno Blitar. Tampak bayangan macan putih sedang menjilati anaknya. Yang kedua (tengah) gambar sebuah kris, dengan tulisan “Bayu Bumi” kenang-kenangan dari alm. Bung Karno semasa pengasingan di Pulau Bangka. Dan yang ketiga gambar si caleg yang memegang tongkat dengan latar belakang gambar Bung Karno. Read the rest of this entry