Catatan Pertemuan Penyair Lima Kota

Standar

Mammaqduah

Temu Penyair Lima Kota di Payakumbuh, Sumatra Barat, telah usai beberapa waktu lalu. Salah satu yang menarik adalah respons pemerintah daerahnya terhadap program kesenian ini. Dan ini sangat berbeda dengan respons pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Balitung, yang terkesan sangat kurang apresiasi terhadap kegiatan seni.

Kegiatan Temu Penyair Lima Kota (Bandung, Sumbar, Yogjakarta, Bali, dan Lampung) yang dilaksanakan oleh tuan rumah, Dewan Kesenian Kota Payakumbuh 27- 29 April lalu tak banyak menghasilkan keputusan berarti, perihal seperti apa dan bagaimana puisi yang seharusnya dan bagaimana seharusnya dunia kepenyairan di Indonesia pada masa yang akan datang.

Keputusan yang ditetapkan saat derai hujan di ruang pertemuan Edotel SMKN 2 Kota Payakumbuh itu, hanya menyangkut tigal hal. Pertama, tuan rumah untuk kegiatan Temu Penyair selanjutnya adalah Kabupaten Siak, Riau. Kedua, pertemuan penyair Muda Lima Kota akan yang sebelumnya telah diadakan di Bandung, Bali, dan Yojakarta, dan Sumbar akan diganti menjadi Pertemuan Penyair Nusantara. Ketiga, embel atau lebel muda dihilangkan, dan peserta pada temu penyair di Siak pada tahun 2009 adalah ‘bebas’ (baik muda maupun tua).

Pertemuan Penyair Lima Kota beberapa waktu lalu sebenarnya menimbulkan ‘masalah’. Itu berawal kurangnya koordinasi antara kepanitiaan sebelumnya dengan kepanitiaan di Payakumbuh. Iyut Fitra (Ketua Dewan Kesenian Kota Payakumbuh) yang didaulat menjadi ketua panitia pada acara itu pun mengakui bahwa komunikasi dirinya dengan kepanitiaan sebelumnya terasa kurang. Akibatnya, kegiatan yang telah direncanakan tak berjalan mulus. Peserta dari Bandung, Bali, dan Lampung tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bandung memang memboikot atau sengaja untuk tidak hadir dalam pertemuan itu, karena tidak adanya kata muda yang ditulis dalam proposal ataupun surat undangan yang dikirim kepada delegasi Bandung. Mereka meyakini bahwa kegiatan di Payakumbuh tidak memiliki roh pertemuan penyair muda.

“Namun saya sudah melakukan klarifikasi dan saya sudah mengirim proposal dan undangan baru. Tapi sayang, Bandung menyatakan tidak ingin mengikuti pertemuan ini. Seharusnya kalau Bandung memboikot acara ini, mereka bisa mengirim satu utusan untuk memberikan klarifikasi dan menyampaikan ketidaksetujuan mereka dalam pertemuan ini,” kata Itu Fitra dalam acara diskusi yang diadakan di objek wisata Ngalau, Selasa sore (29/4).

Sementara ketidakhadiran Lampung dan Bali dalam pertemuan itu lebih disebabkan tidak adanya dana untuk keberangkatan. Namun dari informasi yang diterima, alasan Lampung tidak hadir karena adanya ‘boikot’ dari penyair tua.

Soal embel-embel kata muda sebenarnyanya pun bias. Undangan dan berkas proposal yang dikirim panitia kepada peserta peninjau, yaitu Jakarta, Bangka Belitung, Jambi, Medan, Riau, dan Aceh juga tak dituliskan/disebutkan kata muda. Peserta peninjau pun terkejut, ternyata peserta dari Jogja dan Sumbar yang hadir dalam pertemuan itu ternyata memang masih muda (para mahasiswa).

Beberapa peserta peninjau melontarkan pertanyaan, apakah seperti ini kegiatannya? Akhirnya panitia angkat bicara. Iyut Fitra sendiri yang mengemukakan hal itu. Secara pribadi dia mengakui itu sebagai sebuah kesalahan karena kurangnya komunikasi. Dan Bandung menolak karena ketua panitia adalah Iyut Fitra yang dianggap kawan-kawan penyair muda Bandung bahwa ia tidak layak masuk dalam kepanitiaan apalagi harus didaulat menjadi ketua panitia. Dan itulah salah satu alasan mengapa Bandung kekeh untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut. Bagi Bandung seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa pertemuan penyair di Sumbar yang tercantum di dalam proposal dan undangan yang dibuat oleh Panitia Sumbar, tidak mengakomodasi pada pertemuan penyair-penyair muda. Kenyataannya, kegiatan temu penyair yang diadakan di Payakumbuh tersebut, bukan temu penyair muda, karena di proposal tidak mencantumkan kata muda. Namun pada kenyataannya, peserta dari Yogja dan Sumbar, selain peninjau memang masih muda.

Sebuah Sinergi

Kegiatan ini sebenarnya begitu apik dikemas oleh panitia. Pengemasan itu dapat dilihat begitu baiknya sinergi antara Pemerintah Kota Payakumbuh, Dewan Kesenian Kota Payakumbuh dan panitia. Di jajaran pelindung adalah Walikota Payakumbuh dan penasihat adalah Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Payakumbuh dan Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat. Sementara pada dewan pengarah ada Gus tf, Yusril, dan Rusli Marzuki Saria.

Yang begitu menarik adalah jajaran birokrat Pemerintah Kota Payakumbuh begitu antusias menyambut kedatangan para peserta. Dalam acara pembukaan hampir semua pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Payakumbuh datang untuk hadir. Selain itu, pada acara makan malam di rumah dinas Walikota Payakumbuh, selain dihadiri semua kepala dinas, semua camat dan lurah, beberapa pengusaha asal Payakumbuh turut hadir dalam acara makan malam tersebut.

Saya begitu heran, mengapa para pejabat di sana begitu antusias menyambut tamu-tamu penyair yang datang ke kota mereka? Apakah ada sesuatu yang dicari atau ini memang sebuah budaya/tradisi di daerah ini dalam menyambut tamu?

Ini memang menarik jika diperbandingkan dengan kondisi di daerah-daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tak ditemukan suasana demikian di daerah ini. Dan saya belum menemukan peran pemerintah daerah di sini yang begitu peduli dengan acara sastra seperti ini. Sudah selayaknya ini dijadikan contoh bahwa dinamika dan sebuah kata kebersamaan perlu selalu untuk dijaga dan dibina.

Namun, di sisi lain agenda acara Temu Penyair Lima Kota di Payakumbuh ritmenya seperti membahas agenda kerja. Agenda yang dibuat panitia ini ditanggapi peserta dengan beragam. Ada yang sepakat dan ada juga yang tidak sepakat. “Seperti membahas agenda kerja saja. Tak ada waktu istirahat,” kata seorang peserta sedikit bercanda.

Acara pertama dimulai pada Minggu (27/4) malam, peserta diajak mengunjungi kampung kelahiran Chairil Anwar, di Nagari Taeh, Kabupaten 50 Kota. Sementara pada hari kedua, setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan menghadirkan pembicara Zen Hae, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

Dalam diskusi itu Zen Hae membedah kumpulan puisi seorang penyair muda asal Makasar, M. Aan Mansyur. Dalam pembedahan itu, Zen Hae lebih banyak memuji karya Aan Mansyur. Hampir tak ada celah bahwa puisi-puisi Aan tak berkualitas. Bagi Zen Hae, bentuk-bentuk puisi Aan adalah bentuk sajak bebas yang sesekali menampilkan permainan rima yang ternyata bukan bayangan pantun dan syair. Bagi Zen Hea, Aan adalah penyair yang begitu kuat bermain pada bait-bait yang membengkak. Aan juga kata Zen bisa berhemat dengan semacam epigram dan haiku untuk menyuling makna sambil sesekali menangkap kilatan citraan atau suasana. Bahkan bagi Zen Hae, bahasa Aan lebih jernih dibandingkan dengan Joko Pinurbo.

Namun pernyataan Zen Hae terhadap Aan bagi sebagian peserta diskusi terlalu berlebihan dan terkesan dibuat-buat. Kritik yang cukup pedas datang dari peserta Yogjakarta, yaitu Thendra Bima Putra. Bagi Thendra terlalu gampang memutuskan bahwa penyair muda yang saat ini baik kualitasnya karyanya adalah Aan Mansur. Thendra menduga apa yang dilakukan Zen Hea adalah sebuah proyek atau pesanan yang disengaja untuk menjual buku Aan.

Sementara bagi peserta lainnya, sangat disayangkan Zen Hae terlalu gamang membedah karya Aan, dan buku kumpulan puisi dari Aan belum pernah dibaca peserta. Mengapa tidak membedah kumpulan puisi Kampung Dalam Diri yang merupakan antologi bersama dari peserta dari Yogja dan Sumbar, yang diterbitkan untuk dalam rangka acara Temu Penyair Lima Kota tersebut?

Sementara jawaban Zen Hae terkait soal itu sederhana. “Saya tidak mendapatkan atau dikirimi buku tersebut dan saya pun tak diminta oleh panitia untuk membahas buku tersebut,” katanya.

Sedangkan menjawab pertanyaan lainnya dari peserta terkait bagaimana puisi yang baik, Zen Hae berpendapat puisi yang baik adalah puisi yang menyegarkan dan memberi alternatif baru dalam bahasanya sendiri, yang juga memiliki sintaksis yang kokoh. “Jika ada yang menyebut bahwa ketidakjelasan batasan antara puisi dan cerpen pada saat ini, harus diterima. Hal semacam itu menurut saya memperkaya khasanah perpuisian kita,” ujarnya.

Menurt Zen, dalam menulis puisi harus ada yang namanya disiplin. Mulai dari memilih kata dan frase, merancang larik dan bait, hingga komposisi sajak secara keseluruhan.

Setelah siang diskusi, pada malam harinya (28/4) acara dilanjutkan dengan baca puisi oleh peserta dan dramatisasi dari komunitas sastra di Payakumbuh di objek wisata Ngalau. Baca puisi di pinggir kolam renang, di bawah bukit dengan suasana dingin malam itu terasa mengesankan.

Komunitas Sastra

Pada hari ketiga diskusi tidak dilakukan di gedung, namun di objek wisata Ngalau di bawah rindangnya pohon. Ini menjadi menarik karena tempat yang begitu asyik untuk berkembangnya pikiran bagi peserta diskusi. Dalam acara ini menampilkan Sudarmoko, pengamat sastra dari Universitas Andalas.

Sudarmoko selain membahas perihal bagaimana dunia kepenyairan di Sumbar, juga menekankan kepada pentingnya sebuah komunitas sastra. Menurutnya para penulis puisi di Sumbar, sebagian besar lahir dari interaksi dalam pergaulan bersama, baik itu komunitas, sekolah, kampus, atau klub apresiasi. Interaksi ini sangat mendukung lahir dan keberlangsungan proses kreatif penulisan puisi. Ruang seperti ini merupakan salah satu penjaga kondisi penulisan puisi. Jadi, kata Sudarmoko, komunitas sastra menjadi bagian yang cukup penting dalam dunia kepenyairan di Sumbar. Komunitas sastra itu katanya menjadi medan pergulatan dalam mengisi energi kreatif para penyair. Dalam pertemuan dan diskusi yang diadakan, mereka saling memberikan masukan dan perhatian yang memang sangat dibutuhkan dalam dunia tulis menulis. “Meski puisi dan kepenyairan adalah proses personal, namun saya tetap melihat peluang yang sangat besar yang memungkinkan proses kreatif penyair berkembang melalui komunitas,” katanya.

Beragam pemikiran akan masuk dan berkembang dalam pertemuan yang dilakukan pada sebuah komunitas itu, kata Sudarmoko, akan menjadikan aksi dan reaksi bagi para penulis untuk saling memberikan kritikan dan masukan bagi sebuah karya. Inilah, katanya, pentingnya suatu komunitas sastra.

Yang menarik dari temu penyair ini adalah hadirnya penyair senior dari Sumbar, Rusli Marzuki Saria. Mantan redaktur sastra di Harian Halaun ini seperti menjadi penyemangat bagi peserta lainnya dalam mengikuti satu demi satu acara. Walau sudah begitu tua, namun semangatnya begitu muda. Tidak ada satu pun acara yang ia lewatkan. Ia pun sampai kini masih berkarya. Jadi tak ada istilah pensiun bagi penyair. Mungkin hanya ada kata nonaktif, seperti yang dilontarkan Yusrizal KW.

border=”0″ style=”float: left; margin: 0px 10px 10px 0px”

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s