Ditahan Hujan

Standar

-buat Ira Ismeralda

hujan hari itu datangnya melesat-lesat

menyengat dan menampakkan tabiatnya yang lebat

padahal Ira engkau baru saja melepas penat

di kotaku yang ujung langsat

diapit daimatu, rona langkahmu begitu sahdu

menyapu pasir dan rerumputan liar yang menjalar

batu-batu kotaku termimpi-mimpi ingin kembali

mencumbu aromamu, mencumbu kecilnya mulutmu

dan melangsang kecilnya tubuhmu

hujan hari itu semakin besar dan berkelakar Ira

namun di mulutmu kata-kata terus berkobar-kobar

tentang puisi-puisi

tentang prosa-prosa yang tersimpan

dan tertanam di tanah kita

mengapa hujan tak begitu sabar, apakah dia lapar Ira?

seperti laparnya anak-anak kita akan huruf, kata, dan frasa

mungkin semua ini terjadi di luar kalkulasi kita Ira?

mengapa hujan menahan kita di sini

dan gelombang daun semakin ramai bernyanyi

dan bersorak-sorak tentang anak negeri

dan hujan membuat pertemuan singkat ini

:harus tertunda antara kau dan dia

April 2007

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s