Lembaran Di Bulan Mei

Standar

Lembaran di bulan Mei. Kata-kata begitu panjang juga dibumbui

Dengan jurus-jurus orang tersenyum, sedih, melompat, menangis

Bahkan sedikit tertawa sambil memegang uang kertas seribu rupiah.

Lembaran di bulan Mei. Aku masih ingat angin kala itu berpasir,

Meyisir kotaku yang penuh peluh, hampa, hambar dan pesonanya

Seperti pria yang berumur senja, seperti duan-daun

Yang begitu keras meranggas.

Lembaran di bulan Mei. Di ujung lampu merah bocah kecil

Memekik tiada henti seperti marah, berpura-pura

Menjadi politikus, pengamat ekonomi, ahli hukum dan penyair

Dengan menerjemahkan kata-kata yang digenggamnya.

Lembaran di bulan Mei. Aku menemukan kehidupan baru

Dalam rahim ibu. Sebuah kehidupan yang diterangi lampion kata,

Sebuah kehidupan dengan pintu yang menganga. Mengajak aku untuk

Menyelam lebih jauh tentang bulan dan matahari.

Lembaran di bulan Mei. Orang-orang di kota yang menjadi rusa,

Ke luar dari tirai kegelapan lalu bermetamorposis menjadi kancil

Menerjemahkan kelam seperti kelalawar yang menghisap pohon-pohon

asam lalu menelannya menjadi madu pengharapan.

Lembaran di bulan Mei. Aku menemukan sejuta cakrawala dalam

episode kata. Menemukan kejernihan mata air, dengan jurus-jurus

orang tersenyum, sedih, melompat, menangis bahkan tertawa

sambil memegang uang kertas seribu rupiah.

2008

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s