Lelaki di Sekat Hati

Standar

Gerimis dingin masih meninggal sisa. Di luar sana, debu-debu pecah berserakan diakhir kemarau bulan ini. Sementara pucuk-pucuk angsana terus bergayutan diterpa angin yang menggurah. Pucuk-pucuknya yang kuning melayang-layang singgah dalam radius hijau pohon pinus.
Dingin masih mengikis hari. Dan perempuan yang duduk di sudut  restoran dengan putaran tiga ratus enam puluh derajat. Bola matanya vertikal dan horizontal. Tak ada alunan nada. Hanya sisa gerimis yang masih memantul, membuat beriak yang panjang dalam hatinya.

Matanya panjang sesekali melirik  ke luar jendela. Apa yang diharap tak kunjung juga ada. Sesekali dia menyeduh kopi yang sudah melebur menjadi dingin. Berdiri di tengah atas meja depan tubuhnya. Layaknya seperti seorang petapa yang tak akan pernah menjadi suci. Ia terus menunggu dalam panjang. Namun, lelaki yang diharap tak kunjung datang. Biar sisa, gerimis semakin liar, menjalar dipikul angin yang hadir dari penjuru luar.

Di luar sana, jendela kaca semakin redup dari sisa-sisa gerimis yang singgah di depan matanya.
“Lelakiku mengapa kau tak pernah mengerti. Bukankah kau pernah menggenggam sumpah dan menjalin janji,” gumamnya.

Dia kesal gemerah. Namun, gerimis yang menyisa, sedikit memberi kesejukan untuknya. Kesejukan untuk alasan yang entah apa. Dia ingin melepas hampa bersama sisa kopi yang merambah dingin di meja itu.

Perempuan dengan kerudung dan kemeja biru kecil yang serasi dengan jins biru menggeserkan duduknya. Berpindah seperti berharap laki-laki itu segera menghampirinya. Namun apa yang diharap menjadi hampa. Satu setengah jam menunggu lelaki itu tak kunjung ada. Dia pun tak bisa menerka-nerka kapan lelakinya akan menghampirinya.

Perutnya semakin melilit. Itu dipengaruhi dari sisa gerimis yang menusuk membuat dingin. Ia ingin memanggil pelayan dan memesan makanan. Tapi itu diurungkannya. Sebab dia harus menunggu sang lelaki. Siapa yang tak ingin bersantap dengan orang yang dicintai? “Aku pun ingin, ingin sekali. Apalagi ini untuk pertemuan yang entah apa,” gumam perempuan itu.

Untuk sekian kalinya perempuan itu melirik arloji yang melekat di tangan kirinya. Arloji pemberian lelaki yang dikenalinya dua tahun lalu. Ia ingat betul. Lelaki itu memang tak menebarkan ketampanan seperti yang lainnya. Biasa. Di mata orang-orang yang melihat dan mencuri pandang kepadanya. Tapi entah apa, baginya lelaki itu sangat luar biasa dan teristimewa. Ia terbuai seperti berharap dibelai Adam.

Awalnya, dia pun menanggapi biasa. Tak ada sapa. Tak ada senyum. Yang ada hanya pandang dari kejauhan, itu pun sekilas dan setiap kali sekilas. Perasaan yang kosong pada awalnya. Lelaki yang tidak begitu memedulikannya. Dan ia pun tidak begitu banyak memedulikan. Dia sama sekali acuh, sama sekali tak ingin terlibat jauh. Yang jelas tak ada getar apa-apa waktu itu.

Tapi, entah mengapa ketika suatu hari, tanpa sengaja ia menyapa lelaki yang tak begitu ambil peduli terhadapnya. Lelaki yang duduk sedang menatap hujan sehabis Teater Salman mementaskan Firaun. Dan saat itu dia ingin ke luar untuk hanya sekadar meludah. Namun tanpa sengaja sang lelaki duduk di sana. Matanya satu demi satu menatap air yang turun dari atas sana.
“Bukankah hujan itu indah?” lelaki itu membuka sapa.

Perempuan yang berjarak empat meter darinya hanya tertunduk diam. Hatinya tergetar oleh sikapnya sendiri. Ia tak bisa bersikap dan berkata. Ia pun hampir tak percaya, dengan siapa lelaki itu ingin bersapa.

“Bukankah hujan itu indah?” lelaki itu mengulang kata-katanya.

“Kalau yang kau tanya aku, maka aku tak bisa menjawabnya. Hujan bagiku selalu absrud,” perempuan menjawab.

Lalu ada pembicaraan singkat di antara mereka. Entah tanpa sebab apa, ia mulai menyukai gaya bicara lelaki itu. Aneh bukan? Bisakah seorang perempuan menyukai lelaki hanya menangkap gaya bicaranya! Tapi itulah kenyataanya. Pada awal pertemuan mereka waktu itu.

Dari luar gerimis masih meninggal sisa. Saat ia akan menyeduh kopi untuk yang kesekiannya, lelaki yang ditunggu akhirnya datang juga. Dari kaca jendela ia melihat dengan telapak tangan sang lelaki membendung hujan dengan telapak tangannya. Lalu mengibas sisa-sisa gerimis yang melekat di jaket birunya.

“Maaf aku terlambat,” lelaki itu membuka sapa sambil menarik ujung kursi. Lalu ia duduk pas berhadapan dengan perempuan itu.
“Kau telah lama menunggu?” sambungnya.

Perempuan itu hanya diam. Matanya memandang sang lelaki. Ingin rasanya ia mengumpat dan menghardik lelaki di depannya. Namun ia tak sanggup untuk semua itu.

“Sekali lagi aku minta maaf sehingga membuat kau lama menunggu,” kata lelaki itu.

“Kau, dari sejak pertemuan kita yang kedua dan sampai pertemuan kali ini memang tak pernah tepat dan tak pernah menghargai waktu. Apakah kau tak pernah menyadarinya bahwa apa yang kau lakukan itu telah menyiksa aku!” ucap perempuan itu.

“Maafkan aku. Tadi ada kemacetan akibat pohon yang tumbang.”

“Ah ada saja alasanmu. Mana mungkin gerimis bisa menumbangkan pohon,” kata perempuan itu.

“Gerimis tentu tak bisa. Namun angin yang melakukannya.”
Lalu keduanya diam tanpa kata. Hujan masih bersingutan dan tanpa sapa. Perempuan menyeduh kopi sementara sang lelaki membuah penglihatan yang ada di depannya.
“Che, apakah kau tahu apa yang hendak aku katakan dalam pertemuan ini?”lelaki itu kembali membuka sapa. Entahlah aku begitu sulit menjelaskannya. Yang perlu kau tahu aku begitu mencintaimu. Ya, begitu mencintaimu. Seperti birunya awan dan lautan. Seperti indahnya rembulan yang aku ceritakan kepadamu saat aku lihat di Parai dulu. Seperti sajak-sajak Soni Farid Maulana dan Diro Aritonang dalam ‘Laut Merah’ yang kita dengar di Jalan Punawarman itu. Aku begitu mencintaimu, Che.”

Lelaki itu berhenti sejenak. “Tapi mengapa aku tak bisa memilikimu. Mengapa? Maafkan aku. sepertinya kita memang tak bisa memiliki. Aku belum bisa memilikimu. Hidup ini seperti sebuah arloji, selalu berputar. Hidup ini seperti kabut susah untuk dilihat.”

Semua sepi. Tak ada suara yang ke luar. Tak ada yang saling pandang. Gerimis masih meninggal sisa. “Kalau kau mencintaiku mengapa kau tak bisa memilikkiku. Apakah ada perempuan lain dihatimu?” perempuan membuka sepi.

“Ya. Bukankah kau sering mengdengar cinta tak harus memiliki? Waktu begitu cepat Che, seperti sirklus udara, seperti arloji. Sekali lagi maafkan aku Che.”

****
Perempuan yang sendiri dalam malam yang semakin kelam. Menulis pertanyaan tentang sejuta cinta di malam sunyi. Menulis lelaki yang pernah hinggap dihatinya dan terus dirindunya.

*Bagi lelaki yang selalu ada di sekat-sekat hati: timbul & tenggelam. Di jauh ingatanku kau telah memahat batu keabadian yang mungkin muncul di masa datang. Memberikan pelukan hangat dan berkata “kita dewasa karena cinta”.

Bagi lelaki yang selalu hadir dalam ingatan & memaksa diri untuk menyetubuhi sunyi. Telah aku genapi perjalanan waktu menujumu. Jelaga kerinduan selalu datang tiba-tiba
membadai dan menumbuhkembangkan harapan. Telah kusempurnakan rindu ini
dengan air mata yang tak berkesudahan. Rindu hanya rindu.

Bagi lelaki di singgung perkawanan: persetubuhan absurd kita telah sempurna. Purnama ditemani tiga bintang menjadi saksi bahwa kita berada dalam pergumulan tengah malam
menyelesaikan kata-kata percuma. Semua hanya simpulsimpul kebohongan. Ikatan yang kemudian meregang.

Bagi lelaki yang telah menyelesaikan ritus kematian. Kau hilang lalu jatuh menghujam sunyi. Pada ritual yang selalu kau selesaikan namun tak pernah sempurna. Menebarkan kecintaan pada tanah-tanah merah. Sempurna hari karena kehadiranku.

Bagi lelaki yang padanya kuberikan setengah hati ini. Aku ingin menamatkan rindu ini padamu. Bersama deru angin  dan gerak liar rumputan. Deras alur kerinduan pada padma yang mengambang. Merutuki kesendirian bakung.

Bagi lelaki yang tak peka hati: belajarlah pada semesta. Aku berada dalam pura kesedihan. Memaku tubuh di lelembah kedukaan tanpa sesiapa. Menatap cakrawala bisu desir angin pun lindapkan bayangmu di semesta ingatan.

Bagi lelaki yang kukenal pada malam lebaran. Rentang waktu telah menghubungkan aku dengan kotamu di seberang pulau. Menceritakan riuh geladak kapal hampar samudera menuju handai tolan selisik rindu kampung halaman  tanah kelahiran.

Bagi lelaki yang mengajari aku bahasa hati: teruslah melukis, hanya untukku. Kau telah mendengar semua cerita sedap malam yang kucintai. Goresan tangan takdir kehidupan
juga pelaminan yang kau tinggalkan. Aku masih merayakan pertemuan kita melalui tegur mesra di sehimpit ruang maya.

Bagi lelaki yang telah kusandarkan segala harapan masa datang. Tiba-tiba saja aku diam ketika hari-hari begitu saja mendekatkan kita pada kemayaan abadi. Ruang kosong yang menetapkan aku sebagai perempuan dibuai rayuan karenamu.

Bagi lelaki sesat yang pernah kukenal: keping hidup kita berbeda. Pergilah bersama percakapan pagi hari karena kau salah mencintai perempuanmu atau aku yang telah memilih jalan sesat di sampingmu. Jangan kembali karena aku tiba-tiba membencimu
sepenuh hati.

Bagi lelaki senja: kau pergi sebelum waktu menjemput. Diundakan peristiwa
hanya ada celoteh anak-anak mempermainkan dadu kehidupan, saling bertaruh sebuah replika perjalanan hidupmu.

Bagi lelaki yang hilang dalam deretan panjang angka-angka. Esok hari tak kutemukan dirimu. Lelembah sengaja kau tinggalkan  tanah merah kau datangi. Diantar isak perempuan-perempuan penjual masa.

Bagi lelaki yang memotong rambut panjangnya. Mengapa baru kutemui kau hari ini
setelah sekian waktu kuhabiskan hilir mudik di tangga kepastian. Menemui jalanjalan kehidupan. Menatap sunyi hati yang tibatiba saja kau bangun utuh tanpa perantara.

Bagi lelaki yang membuat aku tiba-tiba saja berdebar. Sekian waktu akhirnya aku rasakan kembali debar itu. Hati yang membuncah karenamu sekian lama
aku nikmati tatap pandang melalui sorot mata yang kau sembunyikan untukku.

Bagi lelaki yang telah menemani hari-hariku. Kebersamaan kita mengundang tanya sekian orang. Tentang cinta, rindu, bahkan perjalanan malam. Kau masih teramat belia untuk dimiliki, teramat lemah untuk disakiti. Apakah kita akan tetap bersikukuh?

Bagi lelaki yang merindui kampung halaman: mari berjuang. Kau hadir di sini bukan untuk sesiapa tapi untuk tanah lahir yang menanti kepulanganmu, merindui semesta ingatan di lahan kanak-kanak. Meretas jalan menuju kecintaan abadi

Bagi lelaki pengail di jalinan peristiwa. Dari puisi aku kenali dirimu. Kotak kenangan tentang ibu dan adik-adik. Lembarlembar khayalan di sudut taman cerita tentang kehidupan. Sakit karena sesal datang kemudian.

*Sajak Dian Hartati, Refleksi Kecintaan

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s