Pangkalpinang dan Partisipasi Kita

Standar

oleh Mamaq Dudah

Tanpa sadar, kota kita, Kota Pangkalpinang, Minggu (14/11) telah memasuki usianya yang ke-49. Mungkin, banyak di antara kita yang tak tahu bahwa tanggal 14 September adalah hari jadi Kota Pangkalpinang. Jangankan pelajar, mungkin banyak pula para guru yang tidak tahu akan tanggal tersebut. Jika itu benar, ironis memang.

Lalu apa yang kita rasakan pada pada kota dengan umur 49 tahun ini?

Apa pula yang dapat kita renungkan dan kita cermati dengan kota ini. Akankah kita semakin betah di dalamnya di tengah gesekan-gesekan yang terjadi. Akan “kesejukan” di bawah pohon pinang itu telah kita temukan?

Kita tahu, banyak permasalahan yang menghinggapi kota dengan luas 89,40 km2 dengan jumlah penduduk 141.556 (tahun 2004) ini.

Ini lah kota dengan hingar-bingar peradabannya. Kota yang perlahan-lahan merangkak menuju -metropolitan-. Dan sebuah kota dengan “kemegahan sesak” dan gedung-gedung yang menjulang semu. Ini lah kota dengan sungai yang membelahnya.

Lihatlah, air yang dulunya begitu jernih, ikan-ikan yang bisa dilihat dengan kasat mata, anak-anak yang bermain sambil belajar berenang tidak bisa kita lihat lagi. Yang ada hanya tinggal kenangan dan romantisme masa lalu. Mungkin benar pembangunan sebuah kota menimbulkan banyak pengorbanan. Namun benarkah “hancurnya” sungai-sungai itu akibat dari pembangunan atau akibat keserakahan kita?

Kini, sungai itu begitu kotor, berbau bahkan kini seperti menjadi momok yang membuat kita semakin untuk tidak peduli. Saya ingin mengatakan bahwa dari sungai itu, cukup banyak warga Pangkalpinang memperoleh pengetahuan tentang bagaimana cara berenang.

Keserakahan sebagian orang dengan dalih mendapatkan sesuap nasi memang menjadi hal yang terkadang tak asing di negeri ini. Sebuah negeri yang harus banyak lagi menghargai akan alamnya.

Ini lah sebuah negeri yang tidak pernah konsisten untuk menegakkan peraturan yang ada. Entah apa yang kita risaukan dengan keseriusan untuk menegagkan peraturan itu. Entah apa yang harus ditakutkan. Jadi tidak salah jika ada yang “bersuuzon” bahwa memang ada apa-apa dengan semua itu.

Selain itu, permasalahan yang tak kunjung selesai adalah tersedianya air bersih. Kita tahu, keluhan-keluhan ini memang sudah sering disampaikan warga. Bukan sekali tapi sudah berkali-kali. Namun dari dulu sampai sekarang belum ada action yang rill dari pemerintah. Terkadang kita pun hampir dibuat “bingung” oleh

pengambil kebijakan itu.

Kolong resintensi Kacangpedang yang katanya sebagai solusi alternatif tak jelas ke mana arahnya dan tak jelas kapan selesainya.

Padahal ketersedian air bersih sangat penting bagi warga. Kota ini semakin hari semakin padat dengan gesekan yang terus tejadi. Jika air sebagai “pendingin” untuk gesekan yang terjadi itu tidak terpenuhi, akankah warga bertindak dengan sendiri dengan caranya sendiri pula?

Selain air, listrik sebagai sumber penerang pun turut menjadi permasalahan warga kota yang tidak pernah ada usainya. Hampir setiap hari terjadi pemadaman. Padahal untuk sebuah kota, sumber penerang amatlah penting bagi warga dan bagi aktivitas lainnya.

Jika air dan listrik, tidak bisa bisa diselesaikan, maka para penanam modal tak akan tertarik untuk berinverstasi di kota dan negeri ini. Siapa pun tahu, kehadiran inverstor untuk suatu daerah amatlah penting. Penting untuk warga dan penting untuk pemerintahnya.

Hadirnya investor akan membuka lapangan kerja baru. Setidaknya warga yang selama ini dianggap “meresahkan” karena sering nongkrong di jalan karena tidak adanya kegiatan/pekerjaan, bisa membantu setelah adanya investasi baru itu.

Kita tahu setiap tahun ratusan pelajar lulus dari bangku sekolah. Bagi yang beruntung bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun jika tak ada biaya maka mencari pekerjaan adalah sebagai alternatif utama. Bila tempat kerja saja tidak ada, lalu apakah yang akan mereka lakukan?

Jadi, bila melihat kondisi kota kita saat ini, akankah investor tertarik untuk menginjak kaki lalu “tidur” di kota dan negeri ini?

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah seperti perubahan jalan, sepertinya juga tidak berpihak kepada kepentingan warganya.

Kebijakan membuat bingung. Tak cuma bagi petugas pos namun bagi perusahaan-perusaan yang harus mengubah flang nama, semua alamat yang berkaitan dengan surat menyurat perusahaan mereka. Mereka harus membuat kartu nama baru dan hal lainnya.

***

Seiring dengan waktu, pertambahan penduduk kota semakin hari semakin meningakat. Mereka yang datang untuk mencari kegiatan lain seperti pekerjaan pun tidak bisa untuk ditolak. Pasca Idul Fitri lalu banyak pendatang yang datang ke kota ini. Tiada lain untuk menggantungkan hidup. Kita tahu siapa pun tak berhak untuk menolak kedatangan mereka.

Kenyatan ini pun menjadi “pekerjaan baru” bagi pemerintah daerah. Yang jelas hal ini perlu disiasati secara serius. Seluruh elemen pemerintah daerah harus kerja ekstra hati-hati agar hal ini ke depannya tidak menjadi masalah baru. Ruang pekerjaan di kota ini memang sulit, tak cuma bagi warga kotanya, apalagi untuk warga “tamu”. Lalu jika pekerjaan itu tidak bisa di dapatkan, maka akan timbul gejolak sosial baru untuk kota ini. Inilah hal yang perlu untuk ditanggapi.

Jadi berbicara Kota Pangkalpinang pada usianya yang ke 49 adalah perbincangan yang dimulai dengan mau ke mana Pangkalpinang. Sangat boleh jadi, pertanyaan itu muncul dari rasa pesimis, karena kondisi kota ini dari tahun ke tahun seakan sarat dengan berbagai persoalan. Mulai dari rusaknya lingkungan, penataan kota, air bersih, lsitrik, dan rasa aman.

Kita pun sadar masih banyak hal yang belum terselesaikan. Jalan masih banyak yang berlobang. Penegakan hukum tidak berjalan dengan baik, kesenjangan semakin terlihat antara si kaya dan si miskin. Dan para pengemis pun mulai muncul di tengah kota.

Lalu, seiring dengan tuanya kota ini, aktivitas yang mengarah pada kemaksiatan pun dapat kita temukan di “salon-salon”, tempat hiburan, diskotek yang berkedok tempat hiburan hadir di kota ini. Pelayanan birokrasi yang belum maksimal, kiranya menjadi cacatan penting untuk kita semua.

Pada penambahan usia itu, kita berharap kota ini bisa memberikan keberlangsungan akan sebuah kehidupan yang nyaman, indah, aman, tertib dan tentram. Untuk semua itu, kita semualah yang harus melakoninya, bukan hanya pemerintah tapi seluruh partispasi warganya. Semua itu tentulah akan terpulang kepada niat dan upaya kita dalam mengelola dan mengisinya. Bukankah Allah SWT sendiri sudah menegaskan bahwa Dia tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, kecuali jika kaum yang bersangkutan yang melakukannya.

Sebagai parameter Provinsi Bangka Belitung, Pangkalpinang memikul beban yang cukup berat bagi daerah-daerah lainnya di provinsi ini. Untuk itu, walaupun Pangkalpinang memiliki setumpuk permasalahan yang belum terselesaikan, tidaklah menjadikan kita putus asa dan putus harapan terhadap masa depan kota tercinta ini. Pangkalpinang adalah milik kita. Dalam kapasitas dan posisi masing-masing, kita harus berbuat yang terbaik bagi kepentingan sesama. Setiap komponen warga perlu bersama-sama menghadapi masalah dewasa ini dengan arif dan bijaksana.

Penumbuhan partisipasi ini membutuhkan political will dan usaha yang serius dari semua pihak. Semua itu memang tidak mudah seperti membalikkan tangan. Semua elemen harus bekerja keras dalam upaya mewujudkannya. Sebuah kota menjadi baik atau buruk akan sangat diwarnai oleh konsep dan pemahaman, yang kemudian diupayakan oleh segenap pengisinya. (*)

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s