Mudik dan Medium Pengakuan Indentitas

Standar

Mammaq Dudah

HARI-hari terakhir ramadhan ini, kita sudah disibukkan dengan tradisi tahunan yang sulit untuk ditinggalkan, mudik. Bagi sebagian orang, berlebaran tanpa mudik akan terasa berbeda nuansa dan maknanya. Siapa pun tak bisa mengelak hal itu. Mudik adalah bagian yang kehidupan manusia.

Makanya tak heran, jauh-jauh hari orang banyak sudah mengajukan cuti, mempersiapkan uang bahkan menyedot tabungannya dan hal-hal yang lainnya agar bisa menjalankan prosesi mudik ini. Jauh-jauh hari kita sudah memesan tiket. Atau karena kita tak dapat tiket yang diinginkan, maka kita berusaha untuk mencari alternatif lain agar bisa menjalankan proses mudik tersebut.

Begitulah. Mudik dianggap sebagai sesuatu hal yang teristimewa. Kita bahkan rela dan merasa tak getar jika harus berdesak-desakkkan di gerbong kereta, di kapal laut, bus. Bahkan dalam pemberitaan media tentang mudik yang kita saksikan sebelumnya, banyak orang yang mengalami nasib naas bahkan berujung pada kematian untuk menempuh proses tahunan menjelang Lebaran itu. Tapi peristiwa itu tidak pernah menyulutkan keinginan kita untuk bermudik dan tidak pernah membuat orang jera. Mudik tetap akan dilakoninya, untuk menjumpai orang-orang yang dicintainya.

Kita merasa bahagia ketika menyaksikan di media bagaimana lelahnya perjuangan mudik tersebut. Di keramaian pemudik yang kita lihat melalui media itu, seperti tak sadar, kita turut merasakan dan melihat di sana ada saudara kita, di sana ada anak kita dan di sana, di dalam kereta, bus atau kapal laut itu ada kerabat kita. Dan mereka akan datang kepada kita untuk berlebaran bersama. Ketika kita lihat mereka kelelahan, sepertinya kita pun turut merasakan kelelahan itu, setahun lalu atau beberapa waktu tahun lalu. Suasana mudik yang kita rasakan dulu seperti selalu membekas. Entah enerji apa yang membuatnya. Roh mudik itu sepertinya selalu datang menjelang Lebaran dan tak pernah hilang.

Hasrat kerinduan itu akan pupus dalam nuansa mudik. Bertemu dengan orangtua dan sanak-saudara. Inilah keanekaragaman budaya yang dimiliki negara kita yang tidak dijumpai di negara lain. Bahkan mudik di negara kita bisa dikatakan mobilisasi penduduk yang diperkirakan terbesar di dunia.

Mudik sebuah anugerah di tengah proses kita menjalankan puasa. Namun sayang, kadang kita terlalu terjebak dalam kelatahan, yang membuat kita terkadang mengabaikan proses ibadah tersebut.

Mudik merupakan suatu proses dalam menggapai makna kerinduan. Aneka kebutuhan akan spritualitas manusia akan kampung halamannya, akan keluarganya yang telah lama tak dilihatnya, menjadi sebuah akumulasi kehidupan yang terindah.

Secara historis, menurut budayawan Jacob Soemardjo, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah mengenal tradisi ini jauh sebelum berdiri Kerajaan Majapahit untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Sejak pengaruh Islam masuk, tradisi ini berangsur terkikis, karena dianggap syirik. Namun peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri

Mudik menurut Jalaluddin Rahmat adalah kembalinya orang-orang yang tinggal di kota-kota besar ke kampung halamannya. Menurutnya ada macam-macam orang yang tinggal di kota besar. Pertama, mereka yang ‘terpaksa’ menghuni kota besar karena tuntutan perut. Tubuh mereka di kota, tetapi hati mereka tetap terpaut ke kampung halamannya. Mereka mengumpulkan setiap suap nasi untuk disumbangkan bagi keluarganya di kampung. Mereka tinggal di kota selama periode tertentu dan mudik setiap akhir periode itu. Mereka pulang kampung pada waktu yang berbeda, kecuali pada waktu Lebaran.

Kedua, bagian dari kelompok pertama yang paling tidak beruntung. Mereka terpenjara di kota besar. Kapitalisme (global) telah membuat mereka tercerabut dari kampung halamannya. Mereka terusir dari tempat tinggalnya, digiring untuk masuk pabrik, atau dicampakkan di jalan-jalan besar. Mereka hampir tidak bisa pulang kecuali Lebaran. Sebagian besar, kalau tidak bekerja di pabrik, menghidupkan sektor informal dengan berbagai kreasi yang menakjubkan.

Ketiga, mereka yang secara sukarela memilih kota sebagai tempat tinggalnya. Mereka adalah orang-orang desa yang bisa dibilang telah berhasil. Termasuk di sini kaum profesional, pejabat, pengusaha, atau anggota legislatif (daerah atau pusat). Sebagian besar di antara keluarga besar mereka tinggal di kampung. Mereka perlu mudik, bukan saja untuk berziarah dan bersilaturahmi, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa mereka telah menjadi orang.

Kini, tradisi mudik menjadi fenomena menarik, sebab ia mampu menembus batas-batas rasionalitas. Bayangan kegembiraan akan merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, keriangan akan bersua dengan sanak keluarga, serta kekhidmatan mencium kembali kampung halaman menghilangkan kesusahan dan hiruk-pikuknya suasana yang terjadi. Kampung halaman akan senantiasa berkesan bagi kaum urban yang merantau.

Menurut Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya. Mudik itu menandakan komitmen batin manusia terhadap sangkan paran dirinya.

Di sinilah peran seorang individu dalam memaknai indentitasnya sebagai mahluk sosial.

Umar Kayam menyebut ketika orang-orang desa memutuskan pergi ke kota dan menetap atau tinggal sementara, nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan dari milieu (lingkungan) kebudayaannya yang lama (desa) dikonfrontasi oleh nilai-nilai lain dari milieu yang lain pula (kota).

Bagi yang mampu beradaptasi dan menetap, inilah yang disebut dengan kaum ‘urban baru’. Nah, bagi kaum inilah, mudik menjadi momen yang sangat dinantikan untuk mengunjungi kampung halamannya. Dan, secara transendental, semua itu bermuara pada hari kemenangan umat Islam, yakni Idul Fitri.

Kebahagian dalam bermudik memang berbicara lain. Berkumpul, bercengkerama, bercanda dengan orang-orang yang kita sayangi memberikan kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan uang. Tiba-tiba kerumunan manusia yang di kota hanya menjadi skrup kecil tanpa makna sekarang hidup sebagai bagian penting dari keluarga besar umat manusia. Mereka sekarang bukan hanya ‘ada’ tetapi hidup. Mudik terkadang mengembalikan kebahagiaan yang bisa dinikmati di tengah-tengah kegagalan ekonomi.

Ajang Pamer

Jika mudik sebagai media untuk menunjukkan indentitas diri juga tidak bisa ditapikkan. Pergeseran ‘nilai’ dalam bermudik yang terjadi memang tidak bisa dicegah. Berkumpul bersama keluarga dalam Lebaran merupakan bagian yang disekiankan. Yang utama adalah bagaimana mudik menjadi sejenis reuni besar untuk saling memamerkan kekayaan. Seseorang yang diperantauannya terbilang berhasil, maka melalui mudiklah medium untuk mengatakan kepada orang-orang di kampung tentang keberhasilan itu. Hal ini memang sulit untuk terbantahkan. Ini sudah menjadi bagian dari dinamika kehidupan manusia yang ingin menunjukkan indetitas keakuanya. Dan hal ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Biasanya pernak-pernik keberhasilan selama diperantauan itu dibawa mengiringi proses mudik. Mobil mewah sengaja untuk di bawa agar bisa menunjukkan kepada tetangga bahwa itulah wujud dari keberhasilan itu.

Terlepas dari semua itu, mudik adalah adalah anugerah. Ayo kita mudik untuk menyapa dan mohon ampun kepada orang tua kita, keluarga kita dan sanak saudara kita. Dan ini adalah kesempatan kita. Sayang jika dilewatkan.

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s