Mengunjungi Situs yang Tak Dirawat

Standar

Akhir Juni lalu, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Pangkalpinang menggelar gawenya. Namanya cukup mentereng: Lawatan Sejarah dan Budaya. Perjalanan sehari yang menghabiskan dana Rp35 juta ini terkesan tidak dipersiapkan dengan matang. Mahfud Aziz, wartawan Metro Bangka Belitung yang ikut dalam rombongan mencatatkannya.

Pagi itu 26 Juni, pukul 07.00 WIB. Di halaman Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, berkumpul 80-an siswa SMA, mahasiswa, bujang dan dayang se-Kota Pangkalpinang. Mereka mengenakan pakaian seragam kaos merah berlengan putih. Inilah peserta yang akan melawat ke situs-situs historis Pulau Bangka.

Sedikit basa-basi dan seremonial, Ahmad Elvian, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Pangkalpinang sekaligus Ketua Pelaksana, melepas rombongan. Rombongan yang menggunakan empat 4 bus meluncur ke situs peninggalan sejarah rumah residen peninggalan penjajah Belanda.

Rumah yang dibangun Belanda pada tahun 1913 ini, terdiri atas 6 kamar, 1 ruang tamu, dan 1 ruang keluarga. Sebelum menjadi ibu kota keresidenan Bangka, Pangkalpinang merupakan satu keasistenan residen yang waktu itu dijabat oleh RJ Koppenol dan dibantu oleh asisten yang bernama Raden Ahmad. Residen pertama yang menempati rumah tersebut adalah AJN Ebgelenberg dari tahun 1913 hingga tahun 1918. Hingga sekarang rumah tersebut masih berbentuk aslinya dan sekarang dimanfaatkan untuk rumah dinas Walikota Pangkalpinang.

Usai mengunjungi rumah residen, peserta selanjutnya diajak mengunjungi Meseum Timah yang terletak di Jalan Ahmad Yani No 17. Meseum Timah ini diresmikan oleh Direktur PT Timah yang saat itu dijabat Erry Riyana Hardjapamekas pada 2 Agustus 1997. Masih baru memang.

Selain replika Prasasti Kota Kapur, di museum ini terdapat sebuah loko buatan Marshall Sons dan Co Limited Engineers Gainsborough England tahun 1908. Loko ini digunakan untuk mengangkut para pekerja dan biji timah.

Sebelum menjadi Meseum Timah, gedung ini merupakan rumah tinggal karyawan perusahaan BTW (Bangka Tin Winning) yang didirikan pada tahun 1800. Rumah ini merupakan saksi sejarah, karena di rumah ini pernah dilakukan perundingan pemimpin-pemimpin Indonesia dengan Belanda dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat itu, para pemimpin Indonesia diasingkan ke Pulau Bangka.

Dengan kondisi genting demikian, pagi hari tanggal 19 Desember 1948, WTM Beel berpidato di radio dan menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Renville. Penyerbuan terhadap semua wilayah Republik di Jawa dan Sumatera, termasuk serangan terhadap Ibukota RI, Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II telah dimulai. Belanda konsisten dengan menamakan agresi militer ini sebagai “Aksi Polisional”.

Selanjutnya, setelah Agresi Militer Belanda II itu, Indonesia dan Belanda melakukan Perjanjian Roem Royen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Royen). Sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Batavia. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan J H van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama, antara lain, Ibokota Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta.

Pada 6 Juli 1949, Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan ke Ibukota Yogyakarta. Pada 13 Juli, kabinet Hatta mengesahkan perjanjian Roem-van Roijen. Pada 3 Agustus, gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia dimulai di Jawa (11 Agustus) dan Sumatera (15 Agustus). Konferensi Meja Bundar mencapai persetujuan tentang semua masalah dalam agenda pertemuan, kecuali masalah Papua Barat.

Kini gedung yang bersejarah itu, saat resmi dijadikan Museum Timah, banyak mengalami perubahan, tidak lagi seperti aslinya.

Makam dan Sejatah Tionghoa

Selanjutnya, dari Meseum Timah perjalanan dilanjutkan ke Klenteng Kwan Tie Miaw di Jalan Mayor H Muhidin No 01 Kota Pangkalpinang. Kelenteng ini dibangun pada tahun 1841 ketika orang Cina didatangkan ke Bangka sebagai pekerja tambang timah di Bangka. Klenteng tertua di Pulau Bangka berukuran 15,5 x 24 meter sebelumnya bernama Kwan Tie Bio. Setelah mengalami kebakaran pada tahun 1998, kelenteng ini berubah nama menjadi Kwan Tie Miau. Kelenteng ini masih berbentuk aslinya, hanya saja pada tahun 1999 dilakukan renovasi atapnya yang rusak akibat kebakaran.

Dari Kelenteng Kwan Tie Miaw, peserta lawatan mengunjungi Kuburan Cina Sentosa yang terletak di Jalan Soekarna Hatta. Pada masa residen Mann berkuasa, dibangunlah kompleks perkuburan Cina Pangklpinang pada tahun 1935. Selain itu, dibangun juga pithin (rumah tempat sembahyang). Sedangkan makam yang tertua adalah makam keluarga Boen Piet Liem. Pernah dipugar sekitar tahun 1915 ketika pemerintahan di bawah dr Sun Yat Sen. Sedangkan luas komplek perkuburan Sentosa seluas 27 hektare, namun sekarang tinggal 19,45 hektare dengan jumlah 12.186 makam.

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, posisi makam yang teletak paling tinggi dan menghadap ke lembah adalah posisi yang terbaik. Karena dalam kepercayaan mereka, makam adalah rumah kedua bagi orang Tioanghoa. Semakin tinggi tempat makam tersebut maka semakin tinggi nilainya. Karena kepercayaan yang demikian itu, maka harga tanah di tempat ketinggian bisa mencapai ratusan juta rupiah. Untuk satu makam bisa ditempati 2 hingga 3 orang. Di antara makam tersebut, terdapat makam satu-satunya yang beragama Islam. Orang tersebut adalah keturunan Cina yang masuk Islam. Nama Ny Tjuriati binti Kusumawijaya. Sebelum meninggal ia minta dikuburkan di komplek perkuburan Sentosa dan meninggal pada tahun 1997.

Benteng Pengintai

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Bangka Tengah, tepatnya di Desa Kurau Kecamatan Koba. Di daerah ini terdapat tiga benteng pengintai yang dibangun oleh tentara Jepang. Persisnya di sisi muara Sungai Kurau. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1942 saat Jepang menguasai Indonesia. Tujuan Jepang membangun benteng tersebut untuk mengintai musuh yang akan masuk yang masuk lewat muara Sungai Kurau.

Namun, kini kondisi peninggalan sejarah ini ditumbuhi semak belukar. Bagian atas bangunan ditutupi tumbuhan bakau. Sedang benteng yang satunya, di atasnya berdiri bangunan rumah penduduk setempat. Sementara itu, peserta yang sebagian besar remaja ketawa-ketiwi cekikan. Tak jelas apa yang sedang mereka tertawakan.

Dari sini, lawatan dilanjutkan ke Sumur Tujuh yang terletak tak jauh dari pagar Koba Tin, dan hanya beberapa meter dari bibir pantai. Sumur yang berjumlah tujuh buah ini dulunya dimanfaatkan oleh Belanda untuk menampung air laut untuk dijadikan garam. Pekerjaannya dilakukan oleh penduduk pribumi dengan upah segenggam garam sehari. Tidak jauh dari sumur tersebut, dibangun pula gudang garam.

Setelah istirahat, sekitar setengah jam, perjalanan dilanjutkan ke Benteng Toboali, Bangka Selatan. Menempuh perjalanan selama 2 jam, sampailah peserta lawatan di Benteng Toboali. Kedatangan rombongan disambut oleh Kapolsek Toboali dan staf dari Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kabupaten Bangka Selatan.

Benteng ini berada tepat di belakang Kantor Polsek Toboali yang tak jauh dari bibir Pantai Ketapang. Benteng yang dibangun oleh Portugis tahun 1825 ini kondisinya sangat memperihatinkan. Di sana-sini banyak ditumbuhi semak. Terkesan, tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah setempat.

Menurut pelaku sejarah Toboali, Suparman Kasim, yang memandu peserta lawatan mengatakan, Benteng Toboali dibangun Portugis kemudian diambil alih oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), semacam Perserikatan Perusahaan Hindia Timur. Tujuan dibangunnya benteng itu untuk mengaman perairan semenanjung Ketapang Toboali dari serangan perompak laut (lanun).

Benteng Toboali berada di atas bukit batu dengan ketinggian 15 meter. Sebelah selatan benteng menghadap Kota Toboali yang terdapat gerbang utama dan merupakan pintu satu-satu untuk masuk ke benteng. Dulunya benteng ini dikelilingi tembok setebal 90120 cm, namun sayang tembok tersebut sudah roboh dimakan usia dan hanya sebagian yang tersisa yang berada di sisi barat. Di tembok tersebut, ada lubang sebagai tempat senjata yang larasnya diarahkan ke Laut sebelah tenggara. Di dalam benteng itu, terdapat ruangan berupa kantor dan rumah huni, yang kini tinggal puing-puingnya saja.

Dikatakan Suparman, Benteng Toboali dulunya di kelilingi air laut. Seiring waktu, lambat laun secara alami benteng tersebut menyatu dengan daratan. Ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia, benteng tersebut pernah dijadikan markas TNI. Dan setelah Indonesia merdeka dijadikan Kantor Polsek Toboali hingga era 80an.

Setelah mengunjungi Benteng Toboali, selanjutnya peserta lawatan melakukan dialog dengan tokoh masyarakat Toboali dan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Bangka Selatan di Gedung Nasional Toboali. Pada kesempatan itu Adnan Idris, sebagai pelaku sejarah Toboali mengungkapkan, nama Toboali diambil dari nama Panglima Ali yang dikirim oleh Sultan Badarrudin Palembang untuk mengamankan daerah ini dari perompak laut yang berasal dari Thailand, Cina, dan Philipina. Dari masyarakat setempat menjadikan nama daerah tersebut menjadi Toboali yang artinya Tobo (keluarga, rombongan) dan Ali (diambil nama Panglima Ali).

Kurang Persiapan

Lawatan sejarah dan budaya yang dilaksanakan Dinas kebudayaan dan Pariwisata Pangkalpinang menghabiskan biaya yang cukup besar. Sayangnya acara tersebut tidak dikemas dengan baik. Akibatnya, para peserta yang kebanyakan dari siswa-siswa SMA se-Kota Pangkalpinang tidak mengetahui lebih jauh tentang cerita dan situs sejarah yang dikunjungi.

Namun begitu beberapa peserta menyambut baik kegiatan seperti ini. Willy Rosari siswa SMAN 3 Pangkalpinang mengatakan sangat berkesan dengan kegiatan seperti. “Saya terkesan dengan adanya lawatan ini. Selama ini saya tidak begitu mengetahui bukti-bukti sejarah yang ada di Bangka. Maka, dengan lawatan ini saya dapat mengetahui secara lansung,” ujarnya

Hal senada juga dikatakan Rezzy Reynaldy, siswa Santo Yosef Pangkalpinang. Menurutnya lawatan ini bisa membangkitkan rasa patriotisme. “Saya sebagai siswa merasakan ada hal-hal baru tentang sejarah yang belum saya ketahui. Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa Meseum Timah dulunya tempat perundingan para pemimpin republik ini,” katanya.

Drs Ahmad Elvian, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang mengatakan lawatan sejarah dan budaya ini merupakan suatu kegiatan perjalanan mengunjungi situs-situs bersejarah lokal yang merupakan simpul-simpul orientasi nilai-nilai perjuangan dan nilai budaya untuk memperkokoh integrasi bangsa.

“Lawatan ini merupakan simpul persatuan dan kesatuan bangsa serta upaya menumbuhkan kesadaran budaya dan kesadaran sejarah. Jadi saya mengharapkan kepada para perserta untuk lebih mengenal dan lebih mengedepankan budayanya daripada sejarahnya,” ujarnya. n

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

One response »

  1. saya sejarah ini sangat baik sekali merupakan sejarah yang harus ditelusuri terus. saya juga ingin mendapatkan banyak informasi lebih lanjut. untuk perkembangan toboali dimasa depan menjadikan sejarah terkenal sebagai pusat perdagangan dan industri di Babel dan dunia kembali

    tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s