Orang yang Aku Cintai Telah Pergi

Standar

Pernahkah engkau menunggui orang yang menghembuskan detik-detik malaikai mencabut nyawa seseorang?

Hari itu, Jumat 18 Juli 2008 sekitar pukul 10.00 WIB sepulang menjemput anakku yang belajar di PAUD, di tengah jalan aku mendapat SMS. Nomornya tak aku kenal. Namun isinya seperti ini “cepet pulang kak Dull ah nue. Aku sadar itu pasti dari kakak perempuanku. Saat itu aku memang ingin ke rumah orangtuaku yang juga di rumah itu kakak laki-laki, yang juga kaka tertuaku di rawat di situ.

Motor aku percepat. Bubu-buru aku menuju kamar di mana kakak dirawat. Aku terkejut, panik dan menangis. Tak menyangka keadaannya seperti ini. Kakakku yang lain sedang membaca yasin dan seorangnnya lagi sedang mengumandangkan takbir.

Aku segera mengambil wudu lalu duduk di sampingnya membaca yasin. Usai membaca yasin aku kembali ke belakang. Dari mulut ibuku keluar kabar bahwa pagi tadi kakakku ini dijemur oleh Ustad (panggilan untuk orang yang mengobatinya).

Aku tak tahu. Mungkin itu salah satu cara dia mengobati kakakku. Padahal badan dan tangannya sudah tak bisa bergerak. Saat dijemur itu ibuku yang menunggui. Kakak laki-laki yang satu kerja dan istrinya sedang mengantar anak semata wayang mereka ke sekolah.

Usia kakak iparku pulang, ia pun membawa suaminya kembali ke dalam kamar. Namun saat di dalam kamar ia melihat kakakku yang sakit akibat tumor di kepala yang sudah setahun ini dirawat keadaannya sudah semakin parah. Instingnya mengatakan bahwa suaminya ini tak lama lagi akan menghembuskan nafas terakhirnya. Ia melihat kakakku tak bisa lagi menggerakkkan matanya. Sementaranya nafasnya terus bederu.

Di dalam masjid usai melaksanakan jumat aku sempat memanjatkan doa. “Ya Allah jika Engkau menjadikan ini cobaan untuknya selama ini, berikanlah ia kesembuhan dari sakitnya. Namun jika Engkau mengingkan ia harus kembali kepadamu, ambilah ia.

Usai solat aku kembali ke rumah. Beberapa kakakku dan aku kembali melanjutkan membaca yasin sambil mengumandangkan takbir. Namun nafasnya belum putus juga. Tak lama ayah dan ibuku duduku di sampingnya. “Jika engkau ingin ‘pulang’ sesungguhnya ebak ikhlas. Pulanglah bak ikhlas,” kata ayahku. Saat itu aku berada tak jauh dari ayahku.

Tak lama setelah orang tuaku mengatakan hal itu, ia sempat seperti tersenyum. Dan setelah itu nyawanya pun terbang dihilang dan rohnya terbang di bawa malaikat. Kami semua menangis. Jumta 18 Juli sekitar pukul 14.30 kakak tertua kami yang begitu kami cintai, yang selama ini menderita sakit, dipanggil sang Khalik.

Ya Allah engkah telah mengabulkan doaku. Engkau memang memanggilnya ya Allah. Engkah telah mengambil kepunyaanmu yang Kau titipkan kepada kami.

Kakakku, Abdullah bagiku adalah seseorang yang istimewa. Dan aku tahu dia pun begitu istimewa bagi teman-temannya. Candanya dan gaya bicaranya membuat ia begitu disayangi dan dicintai. Alhamdulilah begitu banyak sahabat dan kerabatnya yang datang bertakziah, menyolatkan dan menguburkan.

Saat memberikan sambutan usai penguburan, Abu Hanifah Bupati Bangka Tengah menyebut kakakku adalah orang yang begitu dicantai masyarakatnya. Aku berharap itu memang benar-benar kenyataan. Sungguh aku pun meneteskan air mata saat menulis ini.

Ya Allah, aku mohon lapangkanlah kuburnya. Bebaskan ia dari siksa kubur. Dan tempatkanlah ia di surgamu. Dan aku mohon jika yang membaca tulisan ini, mengenalnya dan dia pernah berhutang kepadamu, tolong datanglah ke rumah orang tua kami di Kelurahan Melintang. Atau hubungi HP ku 081929656665.

Aku juga memohon sampaikanlah doa untuknya……..

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s