biografi atau novel, fakta atau fiksi?

Standar

Oleh: Jakob Sumardjo

Buku-buku Andrea Hirata menarik karena beberapa hal. Pertama, ia menceritakan kehidupan suatu daerah yangkena hampir tak pernah masuk dalam pengetahuan sastra Indonesia, yakni Pulau Belitong. Pulau timah ini hanya dil dalam pembicaraan ekonomi dari pertambangannya oleh pemerintah, tetapi tidak dikenal perikehidupan penduduk pribuminya. Karya Andrea ini memberikan informasi tangan pertama tentang kehidupan masyarakat Belitong yang “menderita” itu.

Kedua, Andrea mengangkat suatu tema yang menarik tentang bagaimana seorang anak yang dilahirkan dan hidup dalam serba kemiskinan itu akhirnya mencapai status terpandang dengan melanjutkan studinya di Eropa. Inilah cerita keajaiban.

Ketiga, sedikit banyak pengarang mengungkapkan informasi-informasi antropologis tentang masyarakat Belitong.

Makna buku-buku ini adalah kesegaran informasi sosial dan budaya dari suatu daerah di Indonesia yang selama ini terabaikan. Dengan karya ini, Andrea mengenalkan salah satu bagian Indonesia yang hanya dikenal sebagai penghasil timah, tetapi orang tidak pernah tahu arti tambang timah itu bagi penduduk pulau tersebut. Andrea seolah menggugat Indonesia atas ketidakpeduliannya selama ini sehingga ia tak menyesali mengapa tambang timah terbesar di Indonesia selama ini bangkrut total.

Saya kira Andrea Hirata adalah penulis pertama pulau itu dalam sastra Indonesia. Pulau Bangka, tetangganya, lebih dikenal secara nasional lewat karya sastra, di samping kisah-kisah biografis para tokoh yang dilahirkan di pulau tersebut, misalnya Aidit. Data-data otentik dalam buku-buku Andrea amat berharga karena dialah saksi mata, orang yang mengalami semua yang diceritakannya.https://mamaqsahang.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce-211/plugins/wordpress/img/trans.gif

Persoalannya justru di sini, yaitu apakah semua itu fakta atau fiksi, atau fakta diramu dalam fiksi? Penerbitnya dan juga para pengulasnya menyebut karya-karyanya sebagai “novel” yang jelas genre fiksi dalam sastra. Sebagai novel tak perlu menghubungkannya dengan fakta-fakta pengalaman hidup Andrea. Pengarang bebas menggunakan fakta hidupnya untuk sesuatu makna sebagai respons terhadap persoalan hidup dirinya dan masyarakatnya. Dalam novel, apa yang dikisahkan pengarang tidak harus diartikan “telah terjadi secara historis”. Semua cerita novel hanya sarana untuk mengungkapkan makna pikiran dan perasaan dalam acuan impian, harapan, dan tata nilai subyektifnya.

Akan tetapi, selama pembacaan, saya menilai bahwa buku-buku ini dimaksudkan sebagai otobiografi atau sekurang-kurangnya buku memoir dari sebagian episode hidupnya. Buku ini mengandung fakta-fakta yang dialami penulisnya. Fakta-fakta itu penuh dengan keajaiban, bagaimana anak-anak miskin di pulau gersang itu dapat begitu cemerlang pemikirannya dan sebagian berhasil belajar di Eropa. Hidup memang penuh keajaiban dan ketidak-masuk akalan, dan kadang sulit dijelaskan.

Subyektif

Buku apa pun, baik sastra maupun bukan sastra, bukan kehidupan itu sendiri. Buku-buku adalah ungkapan kesadaran penulisnya, jadi amat subyektif. Buku-buku telah mengandung penilaian kehidupan nyata dalam bentuk pemikiran tertentu. Buku-buku adalah refleksi kesadaran penulisnya tentang apa yang dialaminya, diketahuinya, sehingga realitas kehidupan menjadi realitas kesadaran penulisnya. Dalam buku, kita berhadapan dengan pemikiran, penghayatan, penilaian, dan sikap hidup penulisnya. Penulis itu sendiri yang muncul dalam buku, bukan realitas faktualnya.

Sebuah biografi atau otobiografi tetap merupakan cermin dari sikap penulisnya terhadap realitas. Realitas itu masuk dalam buku melalui saringan penilaian penulisnya. Buku-buku ini mencerminkan realitas subyektif Andrea sendiri meskipun ia mendasarkan pada fakta-fakta hidupnya sendiri. Di situ sudah ada seleksi data. Data-data yang menarik perhatiannya akan diungkapkan, tetapi mungkin ia tak peduli atau tak tertarik pada fakta atau data yang saya harapkan.

Dari cara Andrea menceritakan pengalaman hidupnya (jadi bukan novel, tetapi otobiografi atau memoar), sedikit banyak kita mengenal tata nilai yang dianut penulisnya. Andrea bangga sebagai anak Belitong yang miskin berhasil melanglang buana dari kecerdasannya sebagai manusia modern mondial. Buku-bukunya penuh sanjungan terhadap kawan-kawannya dan guru-gurunya yang haus belajar meningkatkan diri sebagai manusia pintar, banyak pengetahuan dan cerdas dalam memecahkan masalah-masalah mereka. Cerita-cerita ajaib tentang keunggulan-keunggulan mereka bertebaran dalam bukunya yang pertama.

Andrea sangat memercayai penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan modern dan cenderung memojokkan kehidupan budaya daerahnya yang terkesan primitif dan bau kemenyan. Inilah dunia yang harus ditinggalkan, seperti impiannya meninggalkan Belitong menuju Jawa dan akhirnya meninggalkan Indonesia memasuki dunia modern yang sesungguhnya.

Andrea adalah korban dari keberadaan perusahaan negara tambang timah yang telah menghasilkan devisa negara sejak zaman kolonial sampai kemerdekaan. Kehidupan pertambangan itu digambarkan amat berbalikan dengan masyarakat di lingkungannya.

Belitong, dan yang tegas-tegas tak mau berintegrasi dengan penduduk. Sikapnya terhadap keberadaan masyarakat eksklusif tambang itu negatif, yang boleh jadi mewakili masyarakat Belitong umumnya.

Kepercayaan diri Andrea sebagai anak Belitong yang sukses di dunia internasional, dan juga beberapa temannya, memengaruhi sikapnya dalam menuturkan cerita. Sudut pandangnya adalah sebagai manusia sekarang yang menilai kembali sejarah hidupnya di masa silam.

Sikap-sikap di atas membuat buku-bukunya dipenuhi antusiasme dan optimisme yang membuat karya-karyanya ini digemari pembacanya. Semua kemiskinan, kesulitan, dan ketidakberdayaan itu dilihat dalam perspektif kesuksesan demi kesuksesan. Impian, tekad, dan cita-cita melambung itu penting dalam hidup. Nasihat gurunya, Pak Mustar, memperkuat sikap ini, “pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia!” (Sang Pemimpi, hal 148). Semua kejadian dilihat dalam perspektif keberhasilan mimpi penulisnya. Suatu sikap yang memang diperlukan anak-anak muda masa sekarang ini, yang banyak kecewa dengan keadaan dan menghalangi optimisme impian-impian mereka. Sebagai karya sastra yang “menggugah”, buku-buku ini berhasil.

Keberatan

Keberatan utama saya dalam menilai buku Andrea adalah cara menyusun dan membingkai refleksi pengalaman hidupnya dalam bentuk struktur yang utuh dan solid. Akibat antusiasmenya, semua mengalir deras dan abai terhadap penataannya. Logika cerita menjadi kesulitan saya yang utama dalam memahami nilai-nilai pengalamannya.

Struktur ceritanya beralur lurus, kronologis, dari masa sekolah dasar, SMP, SMA, dan perguruan tinggi Universitas Indonesia, kemudian belajar di Eropa. Namun, kekacauan waktu segera terasa dalam mengikuti alur buku ini. Keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh teman-teman SD dengan kreativitas mereka yang mengherankan (misalnya telah mengenal suku-suku Afrika dengan budaya mereka) terjadi waktu SD atau SMP? Kalau sudah di SMP bias diterima dalam penilaian empiris, tetapi mengapa guru-guru SD-nya (yang dipuja pengarang ini) masih terus membuntuti? Apakah guru-guru SD Muhammadiyah itu juga mengajar di SMP? Kekacauan waktu antara masa SD dan SMP ini membingungkan saya dalam memahami keajaiban-keajaiban kecerdasan yang ditunjukkan oleh sekolah paling miskin dan serba kekurangan ini. Dari mana mereka belajar pengetahuan itu semua? Dari guru-gurunya langsung, dari perpustakaan, dari bacaan di luar sekolah, dari pergaulannya dengan orang-orang terpelajar di tambang timah? Tak jelas.

Kehidupan nyata ini memang penuh keajaiban-keajaiban melebihi novel dan karya-karya fiksi yang lain. Namun, karya sastra yang merupakan kesadaran nilai penulisnya justru harus bersikap untuk memperjelas ketidakmungkinan-ketidakmungkinan kehidupan menjadi sebuah penalaran yang mungkin. Karya sastra itu mengandung logika tertentu, artinya bisa diterima kebenarannya oleh pembacanya. Banyak kisah-kisah kecerdasan anak-anak Muhammadiyah itu yang diceritakan penuh kebanggaan, tetapi miskin penjelasan mengapa bisa seajaib itu.

Mungkin buku-buku ini ditulis sebagai catatan kenangan masa kecil. Penulisnya yang sudah belajar di Eropa dan banyak membaca karya sastra menceritakan semua itu dari sudut pandang manusia dewasanya. Anakronis subyek dan obyek bisa saja terjadi. Kejadian di masa kecil dijelaskan secara manusia kota besar yang kontemporer. Misalnya dalam buku Sang Pemimpi, Ikal dan Arai tersesat di Bogor yang seharusnya menuju ke Ciputat. Keduanya kagum dan terheran-heran menyaksikan restoran KFC yang terang benderang yang tak ada di pengalaman Belitong-nya. Namun, tiba-tiba Arai ini bisa menjelaskan secara rinci apa KFC itu dan bagaimana para pembelinya tak usah bayar tunai. Dari mana Arai mampu menjelaskan keheranan mereka sebagai anak kampung yang begitu detail sehingga hanya mereka yang sudah lama hidup di kota besar saja yang bisa menjelaskan secara demikian.

Kemampuan Andrea untuk memisahkan antara dirinya dan obyek ceritanya tidak terjadi. Pengalaman masa lalunya diceritakan dalam terang kecerdasan masa kininya seolah-olah sudah terjadi pada masa ceritanya itu. Kemurnian, keluguan, dan suasana pikiran sezaman agak kacau dengan pengetahuan, kecerdasan, dan cara berpikir masa sekarangnya. Inilah yang membuat nilai dokumenternya menjadi kehilangan kepercayaan pembaca akibat antusiasme dan optimismenya dalam mempahlawankan masa lalunya.

Dalam buku-buku ini kita kehilangan setting masa kejadian sehingga terpaksa kita menebak sendiri kapan seluruh kisah ini terjadi. Masa SD atau SMP-nya rupanya berlangsung sekitar tahun 1979. Kejelasan ini saya peroleh ketika Andrea bercerita tentang pertandingan All England yang menayangkan single Iie Sumirat melawan Sven Pri, dan Lintang menjadi pahlawan kampungnya karena idenya yang cemerlang agar seluruh penduduk dapat menyaksikan tayangan itu lewat pantulan cermin besar. Bagaimana reaksi penonton ketika Iie yang tidak kidal menjadi kidal? Andrea lupa menceritakannya.

Yang lebih aneh lagi, judul Ciputat dalam buku kedua. Kita mengharap akan dikisahkan tentang pengembaraan Ikal dan Arai ke Jakarta dan bagaimana keduanya tiba di Ciputat. Ternyata isi bagian ini tak pernah menyinggung Ciputat sama sekali, bahkan berisi cerita yang meringkas perjalanan hidupnya dari bekerja di Kantor Pos sambil kuliah di UI sampai selesai. Di sini terdapat ketidakkonsistenan dalam menguasai waktu. Dalam berbagai bab atau bagian berisi detail satu peristiwa hanya dalam hitungan jam atau hari, sedangkan di bab lain dalam hitungan tahunan.

Dibuat heran

Saya dibuat heran bagaimana tokoh-tokoh sastra besar bisa mengomentari buku-buku Andrea ini dalam pujian-pujian yang begitu tinggi dan menjanjikan sebagai lahirnya penulis besar masa kini. Apakah mereka telah membaca serius buku-buku ini? Seluruh buku telah dibacanya? Memang, bahan cerita Andrea amat memikat untuk diceritakan, tetapi cara dia menceritakan itu telah ikut mengaburkan makna penting bahannya sendiri. Kalau ditulis dalam perenungan yang lebih jernih dan tertata, bahan ceritanya bisa melahirkan karya sastra penting. Ketergesaan dalam menumpahkan kisah kesuksesan dengan antusiasme dan optimisme yang begitu percaya diri terlihat dalam waktu dekat dia telah menulis serial tetraloginya begitu Laskar Pelangi meledak di pasaran.

Hiperbolisme atau mem-blow up pengalaman-pengalaman masa kecilnya amat terasa pada setiap bagian buku pertamanya. Buku pertama ini juga telah menjelaskan akhir dari kisah masa kecil itu. Hanya kemudian dia menuliskannya kembali secara lebih detail masa-masa setelah Laskar Pelangi.

Jakob Sumarjo Pengamat Sastra

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

One response »

  1. Bung Jakob, kita harus maklum bangsa kita.
    Suatu hal yang dibuat dengan benar, sesuai aturan teknis dan non teknis, belum tentu diminati masyarakat.
    Masyarakat bangsa kita ini mayoritas adalah masyarakat yang gampang dibohongi, diprovokasi dan diadu domba.
    Di negara ini, bagaimana membuat dagangan laris, cuma tergantung pada cara mengiklankannya, bukan pada cara meramunya produknya.
    Sutradara2 kelas wahid kita, jungkir balik bikin cerita, berbulan2 membuat karakter yang mantap dalam mendireksi filmnya, toh filmnya gak laku sekeras film jailangkung yang dibuat dalam hitungan hari atau minggu saja.
    Begitu pula penulis2 sastra kita, yang berjam-jam menulis sampai beruban dan botak, bukunya tak selaris novel “kacangan” karya Andrea Hirata. Ya gimana lagi? kita coba bikin masakan lezat dan mahal dengan mempekerjakan puluhan chef terkenal, masyarakat kita ini masih suka makan tiwul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s