Durain Kardi

Standar

Sampai kini pun, Kardi tak bisa menjelaskan seperti apa buah durian yang bagus itu. Durian yang tak mentah dengan rasa manis berbaur lemak. Yang ia tahu, durian yang bagus ialah durian dengan tangkai melangkai , bulat, duri yang bisa menembus angin ditambah bisa memberikan efek panas yang begitu luar biasa.

Jadi ketika pembeli bertanya mana buah durian yang bagus, Kardi hanya tertawa dan tertawa saja. Ia hanya menjawab tak memiliki ilmu menembus pandang dan tak memiliki ilmu mengecap lidah. Makanya, dia tak bisa memberikan jawaban seperti apa kualitas buah durian yang dijualnya, bagus atau sebaliknya. Ya, karena buah durian isinya di dalam, makanya Kardi tak bisa menjawab pertanyaan yang satu itu. Kalau saja suatu saat buah durian isinya di luar dan kulitnya di dalam, mungkin Kardi bisa menjawab pertanyaan itu.

Kadang Kardi juga kesal dengan pertanyaan yang satu itu. Ya, sekali-kali pembeli bisa kan mengajukan pertanyaan lain. Seperti mengajukan pertanyaan siapa penemu atom atau siapa pertama kali penemu lampu atau siapa penemu mesin jahit. Kalau itu dia akan cepat dan tegas untuk menjawababnya. Namun, sudah bertahun-tahun ia menjual durian, tak sekali pun ia menemukan pertanyaan itu.

Begitulah Kardi yang tak pernah lulus menjadi insinyur ini. Dia hanya tertawa dan tertawa ketika pembeli menanyakan apakah durian yang dijualnya bagus atau tidak.

“Mana saya tahu Bu, isinya kan di dalam,” kata Kardi.

“Ya, setidak-tidaknya Mang Kardi kan tahu seperti apa buah durian yang dijual ini,” kata seorang ibu dengan lipstik yang begitu memerah di bibirnya.

“Nanti saya dianggap pembohong kalau durian yang saya jual ini bagus semua. Nanti kalau durian yang saya katakan bagus ternyata mentah dan keras, Ibu tentunya tak mau lagi membeli durian saya. Betulkan Bu?” kata Kardi. Setelah itu, tak ada lagi komentar apa pun dari perempuan dengan lipstik yang begitu memerah di bibirnya.

Kadang, kalau lagi cuaca baik dan awan begitu biru, para pembeli yang kebanyakaan ibu-ibu langsung mengeluarkan uang dan mengambil beberapa butir buah durian Kardi. Tak banyak tawar menawar dan tak banyak komentar. Namun banyak pula dari mereka itu langsung bergegas meninggalkan Kardi dengan durian-duriannya. Kardi pasrah saja kalau sudah begitu. Ia bisa memaklumi mungkin saja ibu-ibu itu sedang sakit panas atau masih ada keperluan lain sehingga tak berniat membeli duriannya.

****

Kardi beberapa tahun lalu pernah mengenyam kuliah. Namun semua cita-citanya buyar setelah sang ayah meninggal dunia karena ditimpa durian. Kardi ingat betul, pada pagi hari sehabis Subuh ia mendapatkan telepon dari keluarganya yang berada di kampung yang memintanya untuk segera pulang. Sang paman saat itu mengabarkan ayahnya mengalami sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit. Sang paman memintanya untuk pulang hari itu juga. “Kalau kau tak pulang sekarang, mungkin kau tak pernah melihat ayahmu untuk selama-lamanya,” kata Paman Kardi waktu itu.

Hati Kardi gundah. Padahal hari itu ia harus melaksanakan ujian semester. Kalau tak mengikuti ujian, tak ada toleransi dan dinyatakan tak lulus. Artinya kalau tak lulus dia harus mengulang lagi dan harus mengeluarkan uang lagi.

Sementara, kalau dirinya tak pulang seperti yang dikatakan paman, maka dirinya tak akan pernah bertemu lagi dengan sang ayah. “Emang ayah sakit apa tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit,” gumam Kardi.

Kardi tahu betul, selama ini ayahnya tak pernah mengeluh sakit. Tapi kenapa ayahnya tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit. Dan saat di telepon sang paman pun tidak menyebutkan sakit apa yang diderita ayah. Akhirnya, tanpa pikir panjang Kardi memutuskan pulang ke kampung.

Sesampai di pelantaran, orang begitu ramai. Ada perasaan yang aneh. Namun Kardi belum menemukan apa yang sebenarnya terjadi. “Kamu harus sabar,” kata sang paman. Ia melihat wajahnya ibunya begitu sembab. Lima adiknya masih menangis tersedu-sedu. Akhirnya Kardi sadar bahwa ayahnya sudah tak ada lagi. Setelah kejadian itu Kardi tak pernah lagi kembali ke Kota Hujan untuk meneruskan kuliahnya.

Tiba-tiba Kardi tersentak ketika seorang anak bertanya kepada temannya buah apa yang begitu ganas? Buah dengan kulit yang sangat tajam. Jika tertusuk dengan durinya, maka sakitnya mengalahi tusukan jarum benang. Dan jika tertimpa mengenai kepala maka orang akan meninggal dunia. Lalu sang anak yang satunya lagi hanya bisa tertawa dan tertawa saja tanpa memberikan jawaban apapun. Mendengar itu, ia teringat nasib ayahnya dan tanpa sadar Kardi meneteskan air mata.

***

Sudah satu bulan ini Kardi beralih profesi sebagai penjual durian. Sebelumnya, hari-hari ia isi dengan berjualan ikan, namun cuaca yang begitu buruk, ikan yang ia jual banyak yang tak laku karena harganya yang mahal. Ikan-ikan itu lambat laun membusuk dan Kardi rugi. Orang lebih baik membeli ayam atau membeli tempe ketimbang membeli ikan yang harganya selangit. Kardi pun tak bisa berbuat banyak, sebab ikan-ikan yang dibelinya di pelelangan harganya pun selangit. Kalau jual murah, tentunya ia tak mendapat untung.

Pekerjaan Kardi memang selalu berganti-ganti, pindah sana pindah sana pindah sini. Coba sana coba sini. Semua itu pada prinsipnya tergantung mana yang lebih menghasilkan dan mana yang bisa mendapatkan uang dengan cepat. Sebelum menjadi penjual ikan pun, pekerjaan Kardi menjadi pekerja TI milik pengusaha Cina asal Koba. Uang yang didapat pun lumayan, asal biji timah yang didapat hasilnya memuaskan.

Namun pekerjaan yang dilakoninya itu tak berlangsung lama akibat Kamis membara di Airitam sana. Orang masih takut-takut untuk membeli biji timah. Para kolektor takut akibat Kamis Kelabu pada bulan Puasa lalu. Mereka takut terlibat dan akhirnya masuk bui gara-gara berani beli biji timah.

Semua kini serba hati-hati. Pemilik TI hati-hati, pekerja TI hati-hati dan begitu pun dengan pemilik semelter harus hati-hati. Sebab ada empat pemilik semelter yang masuk bui gara-gara usaha yang mereka jalankan. Kardi tak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. “Jika ini ditata dengan baik dari awalnya tentu tak akan jadi seperti ini.” pikirnya. Yang jelas Kardi sangat bersyukur karena saat itu dia tidak bersedia ketika diajak teman-temannya untuk ke Pengkal mendemo gubernur.

Jalan hidup memang susah ditebak bahkan tak mungkin bisa diramal. Seperti hidup Kardi. Dulu ia ingin menjadi seorang insinyur, namun apa daya kini ia menjadi penjual durian. Namun ia tak ingin disebut tengkulak. Ia hanya mencari uang dari perubahan alam saja. Menangkap ikan dimusim panas akan lebih mudah ketimbang musim penghujan. Tahun ini buah durian memang membawa rezeki untuknya.

Dua hari sekali, Kardi berkeliling mencari durian yang harganya murah. Kadang-kadang ia ke Jebus. Atau kadang-kadang ia ke Beruas bahkan ke Penagan untuk mendapatkan durian itu. Namun sejak buah durian di Bukit Tenggiling mulai jatuh, ia lebih sering ke sana. Di Bukit Tenggiling durian begitu banyak. Seluruh pohon durian di sana semuanya berbuah, tak hanya puluhan bahkan ada yang mencapai ratusan dalam satu pohonya. Tak hanya pemilik pohon, Kardi dan yang lain pun ketimpa rezeki dari panen durian tahun ini.

Untuk mencapai ke kebun durian di Bukit Tenggiling sana orang-orang harus ekstra hati-hati karena jalan yang tak begitu bersahabat. Namun begitu, tak membuat Kardi patah semangat. Sapan-sapan dari pembawa buah durian yang ia terima saat di jalan semakin membuatnya terus bersemangat.

Sedangkan buah durian yang dibelinya dari Bukit Tenggiling, atau sebelumnya dari Jebus atau Penagan biasa ia jual di seputar Metro atau di Jalan Jelutung dekat Theresia. Namun Kardi kadang kesal karena ada beberapa petugas yang meminta retribusi untuk lahan rezekinya itu. Ada yang meminta untuk retribusi kebersihan, dan ada juga yang meminta untuk retribusi keamanan. Orangnya selalu berganti dan terus berganti. Setiap hari, jika Mang Kardi sedang berjualan di tempat tersebut selalu saja diminta. Ia ingin menolak dan sebenarnya ia tak mau membayar. Karena ia tak ingin membuat masalah, akhirnya ia turuti saja perintah dari si pemungut retribusi itu. “Uang ini bukan untuk kami, tapi untuk meningkatkan PAD kota ini. Uang ini untuk meningkatkan kebersihan kota ini. Kalau kota ini tak bersih, tak akan mungkin bisa meraih Adipura,” begitulah kata-kata yang didengar Kardi dari orang-orang tadi.

Tapi yang lebih membuat Kardi kesal, orang-orang yang memungut itu meminta buah duriannya. Bahkan tanpa diiyakan, orang-orang itu langsung mengambil lalu mengupas sendiri. Setelah puas memakan, orang-orang itu begitu saja pergi tanpa basa-basi.

Pernah suatu ketika Kardi hampir berkelahi gara-gara ulah orang-orang itu. Kesabarannya diakhir batas. Ia ingin menikam orang itu dengan pisau yang biasa ia gunakan untuk mengupas durian. Namun semua itu tak sampai terjadi. Para pembeli dan penjual yang lain segera melerai. Setelah kejadian itu Kardi ambil inisiatif lebih baik menjajakan duriannya ke dari rumah-ke rumah saja ketimbang menunggu di tempat-tempat itu.

Bagi Kardi, berjualan durian dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya kadang melelahkan dan kadang menyenangkan. Kadang ia mendatangi perkantoran-perkantoran dan kadang-kadang mendatangi gedung-gedung sekolah. Sebab jika tak begitu, durian yang dibawanya tentu tak akan habis terjual.

Suatu hari Kardi merasakan begitu sepi pembeli. Padahal mulutnya hampir berbusa karena berteriak menawarkan buah duriannya. Namun hari itu tak ada yang tertarik kepada buah durian yang dijualnya. Saat ia menawarkan durian yang ia bawa, orang menanggapinya biasa-biasa saja. “Ada apa dengan rezekiku hari ini,” ujar Kardi.

Ia tak patah semangat dan terus saja berkeliling agar ada orang yang mau membeli duriannya. Namun saat melewati setiap gang, setiap melintasi setiap jalan, orang seperti tak tertarik lagi dengan durian. “Apakah orang sudah bosan dengan buah ini?” pikir Kardi.

Karena tak ada yang membeli, lalu Kardi mencoba menawar durian itu ke tempat pelacuran yang tak jauh dari Airitam sana. Beberapa pelacur yang mendiami beberapa kamar langsung ke luar saat mencium durian yang dibawa Kardi. “Berapa Mas sebuah?,” kata seorang perempuan berkulit putih berambut ikal.

“Pokoknya murahlah,” jawab Kardi.

Melihat wajah Kadir yang begitu letih, lalu perempuan yang berambut ikal berkulit putih tadi menyuruhnya masuk ke dalam pemondokannya dan menyuruh Kardi duduk di sebuah kursi kayu yang tak begitu terawat. Tak lama kemudian perempuan itu mengeluarkan segelas air putih dan menyerahkannya kepada Kardi.

“Silahkan diminum. Maaf saya hanya bisa memberi ini. Saya lihat Mas begitu lelah sekali,” kata perempuan tadi. Lalu perempuan itu merebahkan pantatnya sambil membenahi daster putih yang dikenakannya.

Kadir langsung menegegak air minum yang disodorkan tadi. Maklumlah dari tadi kerongkongannnya sudah terasa kering. Ada sedikit lega setelah menghabiskan air itu. Tubuhnya terasa sejuk seperti mata air di pegunungan Lalu Kardi dan perempuan itu terlibat perbincangan yang tak jelas arahnya. Kardi dan perempuan itu semakin akrab saja. Kadang mereka berdua tertawa kecil. Sepertinya mereka berdua begitu bahagia dan sudah saling mengenal lama.

Tiba-tiba tubuh Kardi terasa panas seperti habis menyantap buah durian. Darahnya naik ke atas kepala. Detak jantungnya terasa kencang dan sorot matanya tak pernah lepas dari perempuan dengan daster putih yang duduk pas didepannya. Perempuan putih dengan rambut ikal itu dibenak Kardi begitu cantik dan sempurna. Tanpa banyak kata-kata Kardi dan perempuan itu masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar tubuh Kardi semakin panas di atas ranjang tua. Gerak tubuhnya semakin keras dan mengencang. Gerak tubuhnya semakin lancar dengan deru nafas yang menggebu. Tubuh Kardi terbawa dan melayang-layang ke langit-langit yang begitu gelap. Tak lama setelah itu Kardi dan perempuan tersembab lalu mereka tertidur lelap.

Menjelang Magrib Kardi terbangun tanpa benang. Sedangkan perempuan duduk dengan daster putih tadi menyisir rambutnya yang begitu kusut. Tak lama mereka ke luar. Lalu Kardi mengambil durian yang berukuran besar dengan duri-duri yang begitu tajam siap menerkam dan menyerahkan kepada perempuan tadi. Perempuan itu mengambilnya tanpa harus menyerahkan selembar uang pun dan Kardi pun bergegas pergi.

***

Kini Kardi harus menginap di sel tahanan polsek. Ia dituduh telah membunuh seorang pelacur. Orang-orang menemukan pelacur itu tewas dengan durian menancap di kepalanya!


About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s