Rindu Bik Minah

Standar

 

Daun-daun itu mencium tanah. Tanah yang lembab sejak hujan dua pagi lalu. Desir angin lirih mengibas jauh. Di belakang rumah itu, Bik Minah tersandar di bawah pohon jambu. Semakin rindang. Sejak ditinggal anak gadisnya lima tahun lalu.

 

Di pohon itu lah, Dayang, anaknya, belajar memanjat dan sering memanjat. Sering pula ia terjatuh. Menangis tak henti-henti. Namun tak pernah menyesal untuk berhenti memanjat. Jika pohon itu memusim buah, ada tambahan untuk beli belacin, sasa, garem, bahkan tuk beli beras. Apalagi musimnya bertepatan dengan puasa, semakin banyaklah rezeki yang didapat Bik Minah.

 

Dayang lah yang memetiknya. Ia pula yang menusuk jambu itu dengan sebatang lidi kelapa. Lalu dijualnya dengan tampah keliling kampung. Jika musim puasa, Dayang tak perlu berlama-lama. Sebentar saja jambu itu habis terjual. Orang membelinya untuk berbuka. Manis pula rasanya.

 

Namun, di puasa ini jambu itu tak berbuah. Kembangnya pun tak ada. Hanya daun-daun tua saja yang setiap saat jatuh dan jatuh ke tanah. Setelah disapu, jatuh lagi dan jatuh lagi. Namun sejak pagi tadi, daun itu belum sekali pun disentuh dengan penyapu.

 

Bik Minah masih tersandar di bawah pohon jambu itu. Ia rindu sekali dengan Dayang. Tak terasa, pipi Bik Minah basah karena tetes air matanya. Sudah lima puasa ia tak bersama Dayang. Telaga kenangannya menyeruak. Lima tahun sudah ia tak melihat lentik bulu mata anaknya. Tak menyisir rambutnya. Tak membelainya. Dulu ia sering merapi dan menguncit rambut Dayang di bawah pohon jambu itu. Kadang ia beri minyak kemiri biar berkilau. Dayang tak pernah protes dan selalu bahagia bila Bik Minah menyentuh rambutnya.

 

Di bawah pohon jambu itu pula, lima tahun lalu Dayang mengutarakan niatnya kepada Bik Minah. Ia ingin ke Jakarta. Mencari kerja. Setahun lepas SMK, Dayang tak ada kerja. Entah berapa lamaran sudah diserahkannya ke tempat usaha. Namun tak pernah ada panggilan. Sementara untuk berdagang baju ia tak punya modal. Ia ingin ke Jakarta mengadu nasib. Ingin membantu emak. Apalagi Yuk Yana, tetangga mereka menawarkan kepadanya untuk ikut ke sana.

 

Sebenarnya Dayang berat meninggalkan emak yang sudah tua. Tapi ia ingin beli itu dan beli ini. Tak mungkin selalu terus minta ke emak. Dimana emaknya dapat duit untuk selalu memenuhi permintaannya.

 

Bik Minah saat itu melarang. Melarang keras. Ia tak ingin anak perempuannya harus pergi jauh untuk mencari uang. Ia ingin Dayang di Bangka saja. Membantunya. Makan dengan apa adanya. Baju seadanya.

 

Sebenarnya Bik Minah ingin mengajak Dayang ngabik upah. Ngerumbut atau mutik sahang. Tapi ya hanya tapi. Sekarang harga sahang turun. Harga pupuk  melambung. Junjong lah payah dicari. Jadi sudah tak banyak orang yang bertanam sahang lagi.

Telaga kenangannya menyeruak. Dulu saat harga sahang tinggi, Bik Minah selalu ngambik upah. Di kebun Haji Sahrun di kampung Munggu. Luas sahang Haji Sahrun dua puluh ribu batang. Di kebun Haji Sahrun itu lah Bik Minah bertemu dengan Mang Hasan, ayahnya Dayang. Di sanalah cinta mereka bersemi, di bawah batang sahang. Di bawah sarang burung perebak. Kini, kebun Haji Sahrun sudah jadi belukar. Batang sahang lah mati. Hanya tinggal bedaru tua yang ia biarkan. Sementara Mang Hasan telah lama berpulang.

 

Akhirnya Bik Minah mengalah. Ia pasrah. Ia izinkan Dayang ke Jakarta. Air matanya tak tertahan saat Kapal Srikandi meninggalkan Pelabuhan Pangkalbalam. Dayang pun begitu. Sebenarnya ia tak sampai hati meninggalkan emak yang semakin tua. Tapi ia ingin mendapat kerja. Wajah mereka lembab kala itu.

 

***

Bik Minah masih tersandar di bawah pohon itu. Ia begitu rindu dengan Dayang. Begitu mengental kerinduan itu. Sesekali ia mengusap pipinya. Ia membayangkan sedang apa anaknya kini. Apakah anaknya sedang berpuasa atau sedang halangan. Apakah rambut anaknya masih dikuncit atau sudah dipotong pendek. Ia berharap setelah lima tahun Dayang tak berubah. Selalu menghatam Alquraan di saat puasa.

 

“Lebaran ini Emak harap kaubisa pulang Nak. Emak rindu denganmu. Emak ingin kaubisa membantu membuat rintak dan sempet. Kue kesukaanmu. ”

 

Bik Minah tersedu. Perasaannya jauh dan riuh akan anak gadisnya yang cantik itu. Begitu jauh. Membayangkan Dayang di Jakarta sana. Membayangkan siapa yang akan ngerok Dayang jika ia gelugut. Ia tahu anaknya memang tak begitu kuat bergeluat dengan cuaca yang kadang berubah. Saat kecil, Dayang sering batuk, panas, bahkan pernah sekali kejang.

Ia takut Dayang akan diterpa panas dan badannya menggigil. Ia tak akan bisa memeluk anaknya jika ia menginginkan kehangatan cinta. Hati Bik Minah mendesu akan rindu.

 

“Emak menangis?” kata si bungsu.

“Ya, emak rinduk ayukmu.”

“Mak tadi ada orang mengantarkan surat ini. Katanya, dari Yuk Dayang,” si bungsu menyerahkan surat itu ke Bik Minah.

 

Bik Minah menerima amplop itu. Dibukanya. Angin berhembus jauh. Ia dekatkan kertas putih bertuliskan itu ke matanya. Dibacanya. Daun jambu satu dua jatuh. Diderai angin lalu mencium tanah.

 

Menjumpai

Mak, dan Bujang (adikku sayang)

 

Assalamualaikum,

 

Dayang berharap keadaan Mak, dan Bujang di Bangka dalam keadaan sehat walafiat. Dan alhamdulilah, saat menulis surat ini keadaan Dayang pun masih tetap sehat. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan barokahnya kepada keluarga kita. Amin.

 

Apa kabar Mak. Mak sehatkan? Dayang harap Mak selalu sehat. Mak, Dayang rindu sekali dengan Mak. Sangat rindu. Saat menulis surat ini kerinduan itu semakin tak tertahan. Saat menulis surat ini Dayang meneteskan air mata, karena rasa rindu Dayang kepada Emak dan Bujang.

 

Mak, banyak sekali yang ingin Dayang ceritakan ke Emak. Oh ya, alhamdulliah sampai kini Dayang masih berpuasa dan masih melakukan tadarus. Dayang rindu sekali ingin berpuasa bersama Mak dan Bujang. Menikmati sahur dan taraweh dengan Emak. Rindu dengan lempah kuning Emak, rindu dengan tumis kangkung Emak, pokoknya rindu sekali semua yang ada di Bangka.

 

Mak, mohong maaf. Mungkin Lebaran ini Dayang tak bisa pulang. Tak bisa berlebaran bersama keluarga. Dayang tak bisa membantu  Emak membuat kue. Padahal Dayang ingin sekali bersujud di pangkuan Emak pada Lebaran ini. Dayang mohon maaf jika tak bisa melepaskan kerinduan Emak ke Dayang.

 

Sekali lagi mohon maaf Mak, karena ini yang kelimanya Dayang tak bisa pulang. Perusahaan tempat Dayang bekerja tak memberi cuti untuk Dayang. Padahal sudah jauh-jauh hari Dayang sudah mengajukannya, namun tak bisa juga. Begitu banyak alasan yang perusahaan sampaikan. Sebenarnya Dayang ingin marah, tapi Dayang tak sanggup. Dayang ingin berhenti saja dari pekerjaan ini dan pulang untuk berlebaran bersama Emak. Tapi Dayang sayang dengan pekerjaan Dayang. Kalau Dayang behenti, tentunya Dayang tak bisa lagi mengirimkan uang buat sekolah Bujang.

 

Oh ya Mak bagiamana keadaan Bangka sekarang. Semakin ramai ya Mak. Katanya di Bangka sekarang banyak banyak TI ya Mak. Katanya kulong-kulong kek sungai airnya sudah keruh ya Mak. Sayang ya Mak. Mungkin tak ada lagi ya Mak ikan seluang, tepuring, dan ikan tebelang.

 

Oh ya Mak sekarang di kampung musim ape. Jambu di belakang rumah, berbuah dak Mak. Mungkin sekarang musim durian ya Mak. Lah lama Dayang tak makan durian Mak. Di Jakarta harganya mahal. Mungkin Mang Supri sekarang tidur di Bukit Tenggiling ya Mak jaga durin. Salam ya Mak dengan Mang Supri, dari Dayang.

 

Oh ya Mak bagaimana dengan sekolah Bujang. Ranking berapa di sekolah. Kalau bisa jangan suruh Bujang main bedil Mak, bahaya.

 

Mak, Dayang rasa ceritanya cukup di sini dulu. Lain kali Mina sambung lagi. Dayang minta Mak selalu menjaga kesehatan dan jangan terlalu letih berkerja. Emak tak perlu sedih harus memikirkan Dayang. Anakmu akan selalu bisa menjaga diri. Mohon doanya ya Mak agar Dayang diberikan Allah kemudahan dan selalu ditunjukkan-Nya jalan yang lurus. Sekali lagi Dayang Mohon maaf jika tak bisa pulang pada Lebaran ini.  

 

Wassalam,

 

Sembah sujud anakmu,

 

Minah.

***

Daun-daun dua tiga jatuh, lalu mencium tanah. Angin semakin berhembus jauh. Membawa kerinduan seorang ibu kepada anaknya. Air mata Bik Minah semakin deras menetes, sederas kerinduannya kepada Dayang, anaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

One response »

  1. “Cerita anda menggambarkan suasana alam dan hati antara perantau dan orang yang ditinggalkan,terus terang saya merasakan kesedihan bik minah dan anaknya,cerita anda seolah mewakili sekelumit perjalan saya,dan semua kenangan indah masa kecil saya di selan,belinyu dan gabek pada khususnya,selamat cek…nuansa sastra saya rasakan begitu kental aromanya dalam karya anda diatas -ade gaya2 roman hamka e sikit- teruslah berkarya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s