Pemilu 2009, Berjudi Politik Berebut Kursi

Standar

Ritual untuk memilih anggota dewan, yang katanya sebagai wakil rakyat tinggal hitungan bulan. Namun, aroma ritual itu sudah semakin semerbak dengan banyaknya gambar-gambar partai dan calon wakil rakyat di ruas-ruas jalan kota dan desa.

Para kandidat yang masuk dalam calon daftar sementara (DCS) yang dikeluarkan KPUD Bangka Belitung, kini memang sudah sibuk berkampanye dan mengatur strategi untuk mencuri hati rakyat. Foto diri sudah menyebar, beberapa atribut lainnya sudah disebarluaskan. Semua itu tiada lain agar lolos menuju kursi empuk dewan.

Menjadi anggota dewan memang menjadi pilihan banyak orang. Siapa yang tak mau mendapat gaji, tanpa kerja yang tak banyak menguras tenaga dan pikiran? Gaji itu belum termasuk dengan tunjangan, atau belum termasuk dana reses, kunker, dana pansus, dan dana dari sidang lainnya. Tak salah, kursi dewan itu memang empuk dan menjadi rebutan banyak orang.

Demi lebel sebagai wakil rakyat itu, tak heran dari mereka ini rela berinvestasi sampai miliaran rupiah. Mengeluarkan segepok uang untuk sosialisasi atau kampanye. Asal bisa menang dan melenggang ke kursi legislatif, itu mungkin tak jadi soal. Namun masalahnya, apakah sudah siap mental untuk semua itu? Sudah siapkah jika tak terpilih?

KPUD Bangka Belitung telah mengeluarkan DCS, dan tanggal 31 Oktober 2008 akan mengeluarkan daftar calon tetap (DCT). Ribuan orang di Bangka Belitung berebut kursi DPR, DPD, DPRD Provinsi, Kota dan Kabupaten.

Namun sayang tak semua calon-calon itu sesuai dengan yang diharapkan. Masih cukup banyak dari calon-calon itu menggunakan ijazah Paket C sebagai syarat pencalonan. Ini memang akan menjadi masalah kata Ibrahim, pengamat politik dari Universitas Bangka Belitung. Jika terpilih caleg ini, katanya, tak akan membawa perubahan bagi suatu daerah, karena tak akan mengerti tentang mekanisme kerja. Mereka ini menjadi pendengar pasif dan tak mampu membaca arah kebijakan dari eksekutif.  “Yakinlah bahwa kualitas kontrol dari lembaga legeslatif tidak akan berjalan secara maksimal, karena anggotanya tidak mengerti mekanisme kerja mereka,” katanya.

Selain itu, hal yang jauh lebih penting lagi adalah bagiamana para anggota dewan mampu mengemban amanah rakyat dengan menjalankan tugas dan fungsinya secara maksimal. Bukan memperkaya diri dengan perilaku korupsi.

 

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s