Pemilu Seperti Bermain Judi

Standar

Kompetisi untuk menjadi anggota dewan ibarat bermain judi. Jika menang akan senang, sebaliknya jika kalah akan merana.

Bersaing untuk merebut kuris empuk DPR atau DPRD tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Nilainya bisa puluhan juta, ratusan juta bahkan sampai miliaran. Inilah ladang invertasi yang bisa dipanen lima tahun ke depan, jika dipilih oleh masyarakat.

Seorang caleg nomor urut satu untuk merebut kursi DPRD di Bangka Tengah misalnya, sampai kini telah mengeluarkan dana sekitar Rp50 juta. Padahal pelaksanaan pemilu masih satu tahun lagi. Uang itu digunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti disetorkan ke parpol untuk sewa kantor, pengadaan baju dan atribut partai, mengadakan acara berbuka bersama, memasang baliho, mengurus kelengkapan caleg, mengadakan pertemuan di desa-desa, uang bensin ke sana-ke mari, mengajak teman dan kolega  makan di restoran, sampai diberikan langsung kepada beberapa warga yang dianggap bisa memilih dirinya.

Dana yang dikeluarkan itu pasti akan membengkak lagi menjelang pelaksanaan pemilu. Misalnya untuk keperluan mencetak kalender, memperbanyak baju kaos, menambah baliho, mengadakan pertemuan dengan warga dan acara lainnya, dengan harapan bisa lolos menjadi anggota DPRD.

“Menjadi caleg memang membutuhkan pengorbanan materi,” katanya.

Jika caleg DPRD Kabupaten atau Kota sudah mengeluarkan dana seperti itu, mungkin caleg DPRD Provinsi akan lebih besar lagi. Sebab istilah pemilih binaan cakupannya lebih luas. Mewakili beberapa desa dan kecamatan. Semua warga di masing-masing desa ini harus dibina agar pada pelaksanaan pemilu nanti bisa memberikan suaranya kepada caleg bersangkutan.

Oleh berbagai kalangan, caleg yang memiliki usaha atau bekerja dengan penghasilan yang mapan atau sudah mempersiapkan dana untuk mengikuti kompetisi bukan menjadi masalah. Namun yang menjadi soal adalah caleg dengan modal minim, atau medapatkan dana itu dengan meminjam ke mana-mana.

Menurut  H Haryadi, SE, MBA, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Bangka Belitung, Partai Hanura merupakan partai organik yang pembentukan pengurus ranting dan pengurus cabangnya menggunakan dana dari masyarakat tidak ada dana bantuan dari pusat.

Sumber dana Partai Hanura Bangka Belitung pun saat ini, tambah Haryadi, diambil dari dana pribadi dan bantuan dari simpatisan beserta dari caleg Partai Hanura. Ketentuannya, setiap caleg dibebankan biaya administrasi untuk tingkat II ditetapkan sebesar Rp500 ribu, dan untuk tingkat provinsi sebesar Rp1 juta. “Dana tersebut dimanfaatkan untuk pembelian artribut partai, sedangkan dana yang tersedia untuk DPD Hanura sebesar Rp400 juta lebih,” ungkap Haryadi.

Dikatakan Haryadi, untuk caleg terpilih di kursi legislatif, berdasarkan aturan partai, yang bersangkutan diwajibkan memberikan kontribusinya kepada partai. “Apabila tidak ada kontribusinya kepada partai, juga terbukti melakukan tindakan yang melawan hukum dan melanggar anggaran dasar dan rumah tangga partai, maka akan ditarik haknya untuk menjadi wakil dari Partai Hanura dan digantikan dengan yang lain,” ujarnya.

Tak jauh berbeda, di Partai Golkar, menurut Dharma Sutomo, dana yang disediakan untuk pemilu dari Partai Golkar Bangka Belitung di back-up  oleh masing-masing caleg. “Para caleg inilah yang mempromosikan partai dan dirinya sendiri, ” tegas Dharma.

Sedangkan Partai Gerindra untuk dana pemilu berharap dari swadaya masyarakat. “Dana merupakan swadaya masyarakat dan  nantinya partai kami akan mengutamakan kerja sama dan kesetiakawanan, dimana yang kuat akan membantu yang lemah. Masalah dana merupakan sebuah sinergitas dan nantinya kaum yang lemah dapat berbuat yang terbaik,” kata Ramli Surtanegara, Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bangka Belitung.

Sementara itu, PDIP, menurut Ismiryadi, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah PDIP Kepulauan Bangka Belitung, partainya tidak menerapkan aturan khusus kepada masing-masing caleg yang diajukan PDIP. Dana PDIP untuk pemilu, kata Ismiryadi, merupakan dana gotong royong caleg yang penggunaannya untuk kepentingan bersama, dan tidak ada subsidi dari pusat.

“PDIP tidak ada setoran khusus. Kami  mempunyai dana gotong royong. Artinya begini untuk menyosialisasikan kepada masyarakat butuh dana seperti untuk pembuatan baliho, bendera, baju dan sebagainya. Dan kami tidak membebankannya kepada caleg, hanya saja kami sampaikan bahwa untuk membuat  semua itu dibutuhkan dana, dan kami tidak ada subsidi dari pusat. Jadi kami berinisiatif bergotong-royong di daerah masing-masing sampai di tingkat DPC. Kemudian jumlah dana masing-masing daerah itu berbeda karena tergantung dengan luas wilayah, untuk keseluruhan Bangka Belitung sebesar Rp3,5 milyar,” ungkap Isrmiryadi, yang merupakan caleg nomor satu untuk dapil I Pangkalpinang di DPRD Provinsi.

Jika caleg nanti terpilih menjadi anggota dewan, tambah Ismiryadi yang kerap disapa Dodot ini, maka kontribusi caleg yang bersangkutan kepada partai hanyalah berupa sumbangan sebesar 15 persen dari gaji setiap bulannya, yang diberikan kepada partai.

“Hanya saja setiap ada acara partai, mereka juga gotong royong mengeluarkan dana untuk acara tersebut. Jadi semuanya bermuara kepada gotong royong sampai dengan membangun negeri pun dengan bergotong royong, tidak bisa sendiri-sendiri,” ujarnya.

Sedangkan Lina Wen, caleg DPR RI dari Partai Gerindra untuk dapil Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masing enggan berapa dana yang ia siapkan untuk lolos ke Senayan. Soal dana yang harus disetor ke partai pun katanya belum menemukan angka final, masih dibahas di tingkat partai.

 Pada intinya yang diutamakan adalah bekerja keras dari seluruh caleg Partai Gerindra dan tidak mementingkan jumlah nominal yang disediakan. “Tentang masalah dana caleg di partai kami belum final atau belum mendapat jumlah yang pasti,” ujarnya. (M-102/ M-103/M-105/M-EDR)

 

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s