Ada-ada Saja Ulah Si Caleg

Standar

Baliho ini benar-benar menuai tanggapan dari banyak orang. Mungkin Anda yang kebetulan melihatnya, juga akan memberikan komentar. Mungkin komentar Anda akan lebih aneh lagi.caleg

Suatu ketika saya berhenti di lampu merah. Sebuah baliho berukuran 2×2 cm berdiri tegak. Sekilas memang tak ada yang beda dengan baliho ini. Tapi setelah diperhatikan dengan saksama, sunggu benar-benar beda. Apa sebab?

Jika Anda atau saya menjadi caleg mungkin akan melakukan hal serupa. Memasang baliho di jalan-jalan, di pohon, di pagar tetangga, di lahan-lahan kosong. Pokoknya, asal ada tempat harus dipasang. Nah pada musim Pilkada ini, musim keramaian yang mengerut kening. Di mana-mana, baliho, spanduk, poster para caleg hampir menguasai lahan kota.

Untuk baliho caleg yang satu ini menampilkan bentuk dan corak yang agak aneh. Saya anggap aneh karena gambar pendukungnya ‘lucu’. Gambar pertama tentang makam bung Karno. Bahkan gambar itu didukung tulisan Makam Alm. Bung Karno Blitar. Tampak bayangan macan putih sedang menjilati anaknya. Yang kedua (tengah) gambar sebuah kris, dengan tulisan “Bayu Bumi” kenang-kenangan dari alm. Bung Karno semasa pengasingan di Pulau Bangka. Dan yang ketiga gambar si caleg yang memegang tongkat dengan latar belakang gambar Bung Karno.

Kenapa harus ada gambar seperti itu? Apa masud si caleg ini dengan menampilkan gambar seperti itu? Mungkin dia ingin ‘menyebut’ kenal dengan Bung Karno, atau dia ingin menyebut bahwa ada hubungan spritualitas dengan sang Proklamator Kemerdekaan ini. Atau dia ingin menarik perhatian para penggemar Sukarno. Atau memang si caleg ini ingin membuat sensasi, yang nantinya akan menjadi bahan obrolan sehingga membentuk stigma dari para pelihat gambar atau masyarakat, yang para hari pencoblosan nanti, orang menconteng nama si caleg. Entalah, saya sungguh tak bisa menjawab tebakan yang saya lontarkan itu.

Tapi saya ingin menegaskan, sungguh tak wajar menampilkan gambar-gambar seperti itu. Megawati dan anak-anak Sukarno pun tak pernah memuat gambar-gambar seperti itu. Kalau pun ada, mereka cuma menampilkan sosok Sukarno dengan kopiah dan kaca mata hitam. Tapi itu pun hak semua orang sih. Seorang teman berkomentar, sudah bukan waktunya menampilkan hal-hal yang ‘gaib’ di tengah kondisi saat ini. Orang butuh realitas, hal-hal yang empiris. Bukan hal-hal yang berbau ‘mistis’ seperti itu. Tapi saya berfikir, toh itu kan hak semua orang. Kan tak ada peraturan yang mengatur hal seperti itu.

***

Pilkada yang akan berlangsung beberapa bulan lagi, memang menjadikan ajang baliho bagi politikus dadakan. Wajah mereka menghiasi segala sudut kota. Di manapun. Selain menampilkan wajah diri, mereka pun menulis dengan embel-embel yang beragam. Mohon doa restu dan doanya……atau Karena Anda kami ada….

Memang harus maklum. Para caleg kini berebut perhatian. Membuat citra diri, menjadi orang yang baik dan peduli. Yang laki-laki mengenakan kopiah, atau yang perempuan mengenakan kerudung. Apalagi musim tahun baru ini. Semuanya berebut perhatian. Semuanya ingin menjadi terkenal, ya minimal ada suara rakyat yang jatuh ke tangan mereka.

Memang, menjadi wakil rakyat dambaan semua orang. Gaji besar dengan tunjangan yang besar. Apalagi kerjanya tak seberapa. Saban waktu kunjungan ke sana-kemari. Makanya, tak heran pekerjaan ini memang menjadi rebutan.

Pemilu tahun ini memang menyedot perhatian, juga menyedot uang. Seorang caleg nomor satu dari Partai Hanura untuk daerah pemilihan Bangka Tengah sudah menghabiskan uang sekitar Rp 200 juta. Tapi kini dia stress gara-gara keputusan MA, yang menganulir nomor urut dan menggunakan suara terbanyak.

Juga seorang teman, sehari setelah keputusan MA, dia meminum empat bodrek. Dia yang nomor urut satu ini kalah terkenal dengan nomor urut dua, yang merupakan putra asli daerah. Padahal dia sudah habis-habisan agar bisa terpilih. Padahal semua caleg di bawahnya, termasuk caleg nomor dua tadi dia yang memberi dana kampanye. Termasuk mengurus surat-surat untuk pendaftaran sebagai caleg beberapa waktu lalu. Tapi apa boleh buat, kalau teman saya ini kepilih, itu sudah rezeki dia. Yang saya takutkan dia tak kepilih, taku ada apa-apa dengan dia, dan caleg-caleg yang lain.

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

One response »

  1. Tidak usah la sahang bingung dengan maraknya baliho yang tidak jelas itu. Logikanya begini itu caleg sok kenal dan sok akrab dengan alm. Bung Karno dan kalo nanti ia kalah dalam pilkada maka ybs. ingin dikubur disamping Bung Karno. Maaf, permisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s