Memetakan Langkah untuk Menyelamatkan Bahasa Melayu Bangka

Standar

Berdasarkan catatan Multamia MT Lauder (Kompas,12 Agustus 2008), ada 169 bahasa di Indonesia yang terancam punah. Jika catatan Multamina adalah benar, maka hal ini akan menjadi hal yang mengerikan. Jika tidak ada tindakan, maka akan semakin banyak bahasa yang akan mengalami kepunahan.

 Tak cuma bahasa di Indonesia yang terancam punah, bahkan banyak juga bahasa di dunia ini  mengalami hal yang serupa. Pergerakan ke arah kepunahan itu terutama terjadi di negara-negara berkembang dan miskin.

Menurut Grimes dan Landweer yang dikutif Gufran Ali Ibrahim dalam makalahnya yang disampaikannya pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober s.d. 1 November 2008, penyebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para orangtua tak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi. Sebab yang lainnya adalah, bukan karena penuturnya berhenti bertutur, melainkan akibat dari pilihan penggunaan bahasa sebagian besar masyarakat tuturnya.

           Lalu bagaimana dengan bahasa Melayu Bangka? Apakah juga akan mengalami kepunahan atau terancam kepunahan? Kalau ingin menyebutnya akan mengalami kepunahan, iya (jika ada niat untuk membuatnya punah serta tidak ada upaya untuk mempertahankan dan menjadikannya sebagai sebuah asset yang berharga).

           Dalam makalah singkat ini saya ingin mengatakan bahwa di Pulau Bangka ini ada bahasa lain yang digunakan selain bahasa Melayu Bangka, bahasa itu adalah bahasa Toinghoa Bangka.

           Bahasa Melayu Bangka pun dalam suatu daerah pun kecendrungan memiliki cara pengucapan dan bunyi yang berbeda. Misalnya bahasa Melayu Bangka di Muntok Kabupaten Bangka Barat, bahasa ini lebih condong ke bahasa Melayu di Sabang Malaysia. Namun makalah ini tak membahas tentang bentuk dan corak penggunaan bahasa di setiap daerah tersebut. Pembatasan dalam makalah singkat ini hanya kepada bahasa Melayu Bangka dan upaya untuk ‘menyelamatkannya’.

           Kita sadar bahwa lambat laun pun bahasa Melayu Bangka akan juga musnah jika tidak ada upaya untuk mempertahankannya. Tak ada salahnya, semua orang yang menggunakan bahasa ini,  orang yang merasa bertanggung jawab akan kelangsungan bahasa Melayu Bangka berpikir bagaiamana bahasa ini tidak terncam punah.

           Bahasa Melayu Bangka sebagai asset yang tidak ternilai harus pula dipertahankan keberadaannya. Semua orang, pemerintah, akademisi, kalangan LSM, guru dan yang lainnya harus merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan bahasa ini agar tidak punah atau terancam punah.

           Kita sadar, sebagian generasi tua dan dan banyak generasi muda di Pulau Bangka ini yang ‘tidak lagi’ menggunakan kosa kata Bahasa Melayu Bangka. Mereka enggan, mungkin malu menggunakan kosa kata itu. Atau sebab lain, seperti mereka tak kenal lagi karena tidak pernah diperdengarkan dan diajarkan.

           Sebab lain akan terancamnya bahasa Melayu Bangka ini oleh pihak-pihak tertentu yang kurang andil dalam mengembangkan dan menyosialisasikan bahasa ini. Di sekolah-sekolah, hampir tak ada gelar mengarang atau membacakan cerita dengan bahasa Melayu Bangka. Pun saat lomba yang diselenggarakan di luar lingungan sekolah, masih belum banyak yang menempatkan bahasa Melayu Bangka sebagai bahan yang diperlombakan. Jadi tak heran, suatu saat kita akan kehilangan pengguna dan kehilangan bahasa ini.

Bahasa dan Sastra Melayu Bangka Sebagai Muatan Lokal

           Salah satu langkah untuk menyelamatkan bahasa dan (sastra) Melayu Bangka adalah dengan memasukkannya dalam muatan lokal. Hal ini penting kiranya untuk dipikirkan semua pihak terutama pemerintah, pemerhati bahasa dan ahli bahasa, untuk menjadikan bahasa Melayu Bangka sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar.

           Kiranya semua pihak yang merasa ‘bertanggung jawab’ perlu merumuskan bagaimana sistem dan pola pengajaran bahasa Melayu Bangka jika nantinya dijadikan muatan lokal. Sebab mengajarkan bahasa bukan sekadar mengajarkan bahasa, melainkan siswa diajak belajar berbahasa. Belajar bahasa berbeda belajar berbahasa. Kalau belajar bahasa berkaitan dengan pengetahuan kebahasaan, belajar berbahasa berarti langsung mempraktekkan bahasa yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, minimal saat sedang berlangsung proses belajar-mengajar.

           Dalam makalah ini saya lebih menekankan pada bahasa Melayu Bangka, bukan berarti mengeyampingkan sastra Melayu Bangka. Sebab dalam pengamatan saya saat ini belum banyak karya yang memang benar ditulis dalam bahasa Melayu Bangka yang selanjutnya karya ini akan dijadikan bahan pengajaran bahasa Melayu Bangka.

           Saat ini yang perlu kita banggakan cukup banyak hasil karya dari penulis Bangka. Namun saya belum banyak menemukan karya sastra (dalam bentuk buku) yang semua karya yang disajikan benar-benar murni di tulis dalam bahasa Melayu Bangka. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh karakter masyarakat Bangka yang lebih cendrung menggunakan bahasa lisan ketimbang bahasa tulisan. Jadi ketika harus dihadapkan pada sastra Melayu Bangka dalam pengajaran di sekolah sebagai muatan lokal, saya agak mengalami kesulitan karena tidak ada refrensi berupa buku karya sastra Melayu Bangka yang ditulis murni semuanya dengan bahasa Melayu Bangka.

           Untuk itu bagi saya ketika berbicara sastra melayu Bangka, adalah bahasa yang digunakan dalam karya itu menggunakan bahasa Melayu Bangka, bukan menggunakan bahasa Indonesia atau kombinasi keduanya.         Pun yang kiranya perlu dipikirkan juga adalah bagaimana menghadirkan seorang guru yang piawai dan handal untuk mengajarkan bahasa dan sastra Melayu Bangka ini.           Ini juga tidak mudah, perlu tenaga pengajar muatan lokal yang mampu memahami bahasa dan mampu berbahasa Melayu Bangka.

           Bagaimana  menjadikan bahasa Melayu Bangka sebagai muatan lokal yang mengena, tercapai sesuai dengan yang diinginkan? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya kebijakan formal/status pelajaran bahasa Melayu Bangka, kurikulum, tenaga pengajar (guru), pembelajar/siswa, dan fasilitas/faktor  pendukung.

           Untuk faktor pendukung yang saya maksud berkaitan dengan lembaga bahasa, media massa, dan kondisi penggunaan bahasa bahasa Melayu Bangka. Lembaga yang dimaksud adalah Pusat Bahasa dan Balai Bahasanya yang yang bias menerbitkan acuan/buku tentang bahasa Melayu Bangka, kaidah ejaan, pengucapan, kamus, tata bahasa atau hal lainnya). Sedangkan media massa, terutama media cetak dapat dimanfaatkan sebagai sumber, materi, dan media pembelajaran.

           Menjadikan bahasa Melayu Bangka sebagai muatan lokal, selain untuk ‘menyelematkan’ bahasa ini dari kepunahan juga ada semacam penambahan pengetahuan/wawasan, ketrampilan, dan sikap dalam siswa dalam berbahasa. Dengan harapan, siswa kita mampu menghargai dan membanggakan bahasa Melayu Bangka serta bisa memahami bahasa Melayu Bangka dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan,dan keadaan.

           Karena bahasa Melayu Bangka memiliki ‘raham’ (bunyi dan pengucapan yang berbeda, kadang dalam artian) maka perlu dipikirkan juga kebijakan pemerintah daerah untuk mendukung bahasa Melayu Bangka yang akan dijadikan muatan lokal. Maksudnya adalah apakah kebijakan ini dikeluarkan langsung oleh gubernur seperti adanya peraturan gubernur atau perda (tentunya sudah merupakan kesepakatan kepala dinas kabupaten/kota) atau peraturan/perda yang dikeluarkan oleh masing-masing bupati atau walikota yang sifatnya otonom.  (*)

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s