Ngecok

Standar

Ngecok memang tak asing bagi ‘aktivis’ lapangan di Pangkalpinang. Kata ini terkesan begitu familiar bagi mereka, tentunya bagi saja juga. Bahkan beberapa teman, termasuk saya juga sering menggunakan istilah ini untuk memberikan sindirian kepada seorang teman ketika ia bertandang ke suatu tempat. Apakah kamu juga memahami istilah ini?

Seorang pelajar SMK di Pangkalpinang sengaja saya tanya apakah ia memahami istilah ngecok. Walau sempat berpikir, akhirnya ia memberikan jawaban tak tahu. Saya bisa paham mengapa ia tak mengetahui istilah itu, karena ia masih berstatus pelajar dan memang pergaulannya belum banyak bersentuhan dengan kehidupan ‘aktivis’ di lapangan.

Sementara seorang kepala SD di Pangkalpinang ketika tanya istilah itu dengan lantang menjawab tahu. “Ngecok itu meres,” katanya lantang.  Saya menduga jangan-jangan, kepala sekolah ini pernah menjadi korban dari para pengecok. Semoga saja tidak. Sebab tak etis juga saya harus melanjutkan pertanyaan apakah ia pernah menjadi korban para pengecok.

Ngecok, memang bukan berasal dari silsilah bahasa Bangka. Namun saya juga tak tahu berasal dari mana kata ini. Namun beberapa tahun terakhir, sejak berdirinya Provinsi Bangka Belitung, bahasa ini mulai pupuler di kalangan ‘aktivis’ di Pangkalpinang dan sekitarnya. Apalagi saat memasuki Idul Fitri, kata  ini begitu familiar terdengar. Walau istilah ini terasa hambar, pelakunya begitu memahami situasi dan kondisi saat ini.

Kata ngecok memang dimaknai sebagai perbuatan yang negatif. Perbuatan yang merugikan orang lain. Begini mungkin menafsirkannya. Ngecok adalah sebuah langkah untuk mendapatkan uang dari orang lain dengan cara yang memaksa atau sedikit memaksa. Si pengecok akan mendatangi rumah korban, atau mendatangi di mana tempat si korban bekerja. Nah, baik di rumah maupun di kantor, si pengecok ini meminta uang kepada korban. Biasanya, permintaan ini dengan cara ‘paksa’ karena pelaku melakukan sesatu dianggap melanggar hukum misalanya.

Para pengecok ini dari latar belakang aktivitas/profesi yang berbeda. Bisa dari kalangan LSM, bisa dari kalangan kepolisian, jaksa, wartawan sekalipun.  Ada LSM yang memang memposisikan lembaganya untuk memeras, ada jaksa yang memang hobinya memeras, ada polisi dan wartawan yang juga seperti itu.

Suatu ketika mendekati hari Raya Idul Fitri, saya melihat ada Jaksa, polisi, LSM, dan wartawan bertemu dengan kepala dinas, yang dianggap memiliki kesalahan.

Ha…..ha…, apakaha Anda juga pernah melakukan perbuatan ini? Saya harap tidak.

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s