TEPALAK DAN SELUANG

Standar

Penghujung 2012. Sabtu, 29 Desember tepatnya, langit Pangkalpinang nampak mendung. Cuaca di setiap penghujung Desember memang selalu tak bersahabat khususnya bagi pelancong. Namun janji adalah hal penting yang harus diselesaikan, maka dengan sepeda motor yang saya beli seharga Rp. 9 juta lebih pada tahun 2006, maka saya pun melaju untuk menyelesaikan janji itu.

Janji itu saya buat dengan Nurdan Firmansyah, beberapa hari lalu melalui perbincangan di telepon genggam. Tak lama saya sampai ke rumah teman ini yang kerap saya panggil Dedek. Ternyata, ia baru saja membangun rumah. Bagi saya alhamdulilah, karena ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membayar kontrakan setiap tahun. Walau belum sempat diberi pewarna pada dinding, saya sudah merasa puas dengan rumah teman ini, yang terletak di ujung Bukit Merapin. Dengan tak banyak basa basi dan membawa sebilah parang, kami pun menuju tempat tujuan, Desa Petaling.

Untuk menuju Desa Petaling, kami tidak melewati Jembatan Pahlawan 12 atau melewati Jalan Muntok, yang kerapa saya lewati jika menuju ke Desa Petaling. Jalur yang kami tempuh adalah melalui Kelurahan Tuatunu Pangkalpinang, selanjutnya menuju Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten. Oh ya Tuatunu walaupun masuk ke dalam geografis Kota Pangkalpinang, namun suasana desa masih begitu kental. Orang-orang tua berkopiah haji beberapanya sibuk menimbangkan karet.

Sepanjang antara Tuatunu dengan Desa Air Duren suasana alam masih begitu mengental. Alam terasa masih hijau, dengan kanan kiri terdapat kelekak, semak belukar dan kebun karet. Saya juga masih melihat sungai-sungai yang bening di pinggir-pinggir jalan. Suasana ini bertolak belakang dengan keadaan sungai di sejumlah desa lainnya di Pulau Bangka. Maklum sungai-sungai itu sebagian sudah tidak bening alias keruh, alias berwarna coklat karena pengaruh penambangan timah, baik secara kovensional maupun inkonvensional. Kurang lebih sekitar setengah jam, sampailah kami di Desa Petaling.

Tujuan utama kami ke desa ini adalah ke kebun mertua teman saya ini. Letaknya ke arah Desa Payabenua, namun belok kiri melewati jalan merah atau tanah puruh (maaf saya tidak bisa menjelaskannya secara detail bagi mana letak lokasi kebun ini). Kami ke sana untuk mengambil bibit keladi atau talas. Saya ingin mendapatkan bibit tananaman ini yang akan saya tanam di kebun saya. Sebab, jangan harap akan mendapatkan bibit tanaman ini di pasa-pasar atau di tempat penjualan tanaman. Karena memang tidak ada!

Tak lama perjalanan kami pun sampai ke kebun. Ada sebuah pondok dengan dua lantai beratapkan daun rumbia dan berdindingkan papan. Ini memang rumah kebun. Ukurannya tidak begitu besar, tapi cukuplah untuk istirahat bagi dua keluarga. Ini kata teman saya kebun pertama. Keadaanya memang cukup semak, yang banyak ditanami pohon karet dan pohon nanas. Tapi tak banyak pohon keladi di kebun ini. Maklum tanaman ini tidak akan bertahan lama bila banyak semak di sekitarnya. Karena tak mendapat apa yang kami cari, kami pun menuju kebun kedua, milik mertua teman saya ini. Letaknya? Ternyata tak jauh dari kebun pertama.

Ha….ha… apa yang saya cari begitu banyak di kebun ini. Tanaman ini begitu banyak tumbuh di antara pohon lada. Ada 2000 batang pohon lada (kebun sahang) di kebun ini. Jumlah itu saya dapat dari Amang, sapaan oleh Dedek bagi si pengurus kebun. Sungguh! Saya merasa bangga dengan keadaan kebun ini, tanaman sahang ini begitu subur, dan sebagiannya sudah ada yang berbunga dan berbuah. Kebun lada ini menurut Amang dulunya adalah kebut karet, karena batang karet sudah tua dan tidak banyak lagi menghasilkan getah, maka pohon karet ditebang dan lahannya ditanami oleh sahang alias lada.

Begitulah. Saat ini orang mulai bertanam lada, setelah sempat lama ditinggalkan karena harga lada yang murah. Alasan lain,  banyak yang tergiur menjadi penambang bijih timah dan bertanam kelapa sawit.

Setelah mengambil bibit keladi kami pun menuju ke kebun pertama. Di sinilah pangkal mulanya. Diam-diam ia menebang pohon untuk dijadikan tentar pancing. Ternyata tanpa sepengetahuan saya diam-diam ia telah membawa tali dan kail pancing dari rumah. Ia merakit tali ke kali lalu memansang unjung tali ke ujung kayu.

“Ayo mancing……….,” katanya.

Saya tertarik. Tak lama saya mengikuti jejaknya mencari tentar pancing. Maka setelah menggali cacing di bawah poncong kami pun langsung menuju sungai kecil. Umpan cacing pun di pasang ke matal kail. Dedek melempar kail ke sungai, tak lama ikan tepalak langsung ia dapatkan. Tak lama kemudian ikan seluang ia dapatkan. Saja semakin penasaran dan merasa “dilangkahi”. Tanpa basa basi saya pun mendapat seluang. Ikan semakin cepat menyantap cacing yang kami pasang ke mata kail. Artinya ikan pun selalu kami dapatkan.

Saya sudah lama tak merasakan memancing tepalak dan seluang. Saat masih kecil, saya kerap memangcing ikan ini di depan rumah kami di Desa Lampur. Kerinduan saya saat masih kecil, terobat pada hari itu. Menyenangkan, stress saya yang hampir setiap hari berkutat dengan pekerjaan benar-benar terobati.

Oh ya ikan tepalak memang agak ganas dibandingkan seluang saat menyantap umpan. Tepalak versi Dedek adalah cupang Bangka. Ikan ini memang mirip dengan ikan Cupang yang kerap dijadikan ikan hias dan ikan aduan. Sementara itu ikan selaung warnanya agak kehitaman dengan ada garis-garis di badannya.

Hari semakin menanjak siang. Karena pancing kami sudah tak lagi digubris ikan, kami pun mencari lokasi lainnya. Ternyata di lokasi ini tangkapan ikan juga tak kalah hebatnya. Kami berdua semakin berlomba dan berlomba untuk mendapatkan yang terbanyak. Sungguh…saya merasakan suasana itu.

Apakah Anda ingin mencobanya? Memancing Tepalak dan Seluang?

About sahang

Mammaqdudah. Terlahir di Desa Lampur, Bangka Tengah. Meninggalkan Lampur pada kelas 5 SD dan menetap di Pangkalpinang. Lalu terdampar di Bandung selama 6 tahun dengan hidup nomaden. Kini berprofesi sebagai wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s