Drama Organ Tunggal

Standar

Sangat menarik bagi saya ketika membaca Bangka Pos (Rabu 9/1/2013). Sebuah berita singkat tentang bagaimana perayaan Rebo Kasan di Desa Bakit Kecamatan Jebus. Menariknya lagi berita yang disajikan dilengkapi dengan sebuah foto, tiga orang biduan sedang bernyanyi, berjoget dengan pakaian yang sensual!

Tersebutlah hiburan dengan menampilkan organ tunggal lengkap dengan biduan alias penyanyi wanita itu untuk merayakan Rebo Kasan di Desa Bakit. Bagi saya ini sangat ‘hebat’ karena biduan yang dihadirkan benar-benar ‘menghibur’ masyarakat. Tapi, tak jelas menghibur apakah dengan suara atau dengan goyangannnya. Apalagi pakaian yang dikenakan bidauan seperti yang terlihat pada foto benar-benar fantastis! Juga tak jelas apakah masyarakat yang menikmatinya, benar-benar menikmati suara merdu dari sang biduan atau  menikmati goyangan dari biduan dengan pakaian yang dikenakannya.

Hiburan memang menjadi pelipur lara bagi manusia atau sebagai salah satu senjata untuk menyejukkan hati, menghilangkan rasa gelisah atau kegalauan jiwa. Tapi hiburan sebenarnya hanya sebagai penyisir saja dalam transaksi masalah yang dihadapi bagi sebagian orang. Kegamangan hati yang bertubi-tubi kadang bisa terobati dengan hiburan yang dicari dan dinikmati. Tergantung pada setiap individual untuk  memaknai dan bagaimana menikmatinya.

Hiburan (organ tunggal) kini dimaknai sebagai simbol. Sebuah hajatan tak akan meriah dan tak sempurna jika tidak menampilkan organ tunggal. Karena sebagai simbol, pemaknanya pun kemudian menjadi berbeda-beda tergantung yang menampilkan, tergantung yang ditampilkan, dan tergantung pula dengan selera atau keinginan penikmatnya. Menikmatinya pun kemudian menjadi berbeda, apakah hanya semata untuk keselarasan antara hati dan telinga atau hanya hanya untuk kenafsuan dan indera mata.

Dan penampilan drama organ tunggal yang dihadirkan oleh perangkat desa untuk merayakan Rebo Kasan dengan menghadirkan penyanyi dengan bahan pakaian yang minim, rasanya kurang mengena. Maka harfiah dari menghibur seperti sudah menjadi simbol yang mencekam. Seharusnya kepala desa atau pun tokoh masyarakat setempat tahu Rebo Kasan adalah tradisi keagamaan yang mayoritas dianut masyarakat desa setempat. Ada apa dan sesungguhnya apa yang telah terjadi dengan orang-orang yang menghadirkan, mendatangkan dan menampilkan drama organ tunggal dengan pakaian biduan yang kurang pas untuk merayakan acara tradisi keagamaan itu?

Rebo Kasan sebagai tradisi keagamaan ada pakem-pakem yang harus dipelajari dan dihormati. Rasanya tak elok juga bila dalam perayaan Ruahan di Desa Keretak atau perayaan 1 Muharam di Desa Kenangan atau Maulid Nabi di Desa Kemuja dihadirkan hiburan organ tunggal  dengan biduan pakaian yang serba minim. Bukan pembanding memang antara tradisi memperingati 1 Muharam atau Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tradisi Rebo Kasan. Karena sebagian umat Islam tidak mengenal yang namanya Rebo Kasan, namun sebagian umat Islam  yang lain Rebo Kasan adalah ‘penggalan’ nilai-nilai keagamaan. Tentunya, dalam tulisan ini bukan kapasitas saya untuk membahas bagaimana tentang pandangan Islam tentang Rebo Kasan ini.

Merayakan Rebo Kasan memang tidak hanya di Bangka Belitung, juga dilakukan juga sebagian masyarakat di daerah lainnya, semisal di Bogor, Jawa Barat di Banten, Yogyakarta, Gresik (Jawa Timur), yang initinya memohon kepada Allah agar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana).

Di sejumlah daerah di Bogor [1], pelaksanaan tradisi ini diawali dengan solat tolak bala’ (sekitar jam 7 pagi), tahlil dan tahmid, dan sedikit wejangan dari iman masjid. Akhir dari upacara ini adalah tukar menukar jamuan ketupat dan lauk pauknya dan makan/sarapan bersama. Namun, bagi yang memiliki kegiatan rutin, jamuan bisa dibawa pulang ke rumah. Jadi, jangan heran kalau pada hari Selasa -sehari sebelumnya, dijual kulit ketupat di pasar-pasar tradisional.

Di Desa Tuatunu Pangkalpinang, perayaan Rebo Kasan dilakukan oleh warga setempat dengan ngaggung ke masjid yang kemudian ditutup dengan doa. Sementara di Desa Air Anyir Bangka perayaan Rebo Kasan diawali dengan ritual yang dilakukan di sebuah masjid di desa setempat dan juga disertai dengan hiburan di pantai, yang itu acaranya dikemas oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka. Di sini perayaan Rebo Kasan yang paling ramai dan meriah, dimana setiap rumah juga menyediakan makanan berat dan makanan ringan untuk tamu yang berkunjung, sama halnya di Desa Keretak ketika Ruahan, Desa Kemuja ketika Maulid Nabi, dan di Desa Kenanga ketika perayaan 1 Muharam.  

Jadi, jika intinya perayaan Rebo Kasan untuk  menolak bala, apakah tidak dilakukan dengan ritual dengan nuansa keagamaan, bukan dengan menghadirkan drama organ tunggal dengan biduan yang berpakaian kurang pantas. Lalu dimanakah esensi dan korelasi Rebo Kasan, sebagai tolak bala dengan menghadirkan  organ tunggal dengan biduan dengan pakaian yang wah!

Resepsi Pernikahan

Kehadiran organ tunggal bukan “keyboard tunggal” di Pulau Bangka merupakan imbas dari perkembangan produk hiburan yang berkembang dewasa ini. Namun jika ditilik lebih dalam, hiburan orang tunggal ini muncul tak kala ‘dilarangnya’ hiburan band yang sering tampil di kampung-kampung ketika hajat pernikahan. Beberapa tahun lalu, hiburan band memang sempat boming. Namun hiburan ini oleh tokoh agama, tokoh masyarakat yang didukung oleh pemerintah daerah setempat ‘dilarang’ karena kehadirannya pada acara resepsi pernikahan, yang tampil pada malam hari banyak menimbukan kekacauan dan perkelahian antara pemuda. Dampak negatif begitu luar biasa, dimana judi kodok-kodok, penjualan minuman keras, yang berakhir pada perkelahian dan pembunuhan tak bisa dielak ketika ada penampilan hiburan band pada acara pernikahan kala itu.

Kini organ tunggal dan resepsi pernikahan seperti tak bisa dipisahkan. Lebih dari sekadar hiburan dalam pesta kawinan[2], kehadiran organ tunggal tak ubahnya jadi kemestian. Meski organ tunggal tak hanya terbatas pada genre dangdut, tetapi begitulah umumnya di pesta perkawinan. Tak hanya itu, sejumlah papan nama penyedia jasa organ tunggal pun sesekali mudah ditemui di pinggir jalan, bersaing dengan jasa pertunjukan badut untuk acara ulang tahun anak-anak. Para penyedia jasa pernikahan, yang kini lebih memainkan perannya sebagai wedding event organizer, pun kini tak hanya menyediakan penyewaan tenda, kursi, dekorasi pelaminan, dokumentasi, juga memasukkan organ tunggal dalam daftar atau paket yang bisa diorder.

Gejala ini menarik lebih dari sekadar hubungan antara perkembangan teknologi (musik) dan budaya massa. Melainkan juga bagaimana organ tunggal pelan-pelan telah mengubah proses pemaknaan terhadap berbagai hal di balik sebuah peristiwa pertunjukan. Tak hanya berubahnya makna jarak antara penonton dan penampil, tetapi juga perubahan yang berurusan dengan prestise yang diam-diam selalu dilekatkan pada setiap kenduri.

Memandang organ tunggal dalam berbagai pesta perkawinan, tampaknya modernitas memang tengah memenuhi janjinya, yakni, perkembangan teknologi yang membawa efisiensi dan efektivitas.  Jika tanggapan dalam kenduri pernikahan dihubungkan dengan prestise, kehadiran organ tunggal mau tak mau telah mengubah peta prestise tersebut. Jika sebelumnya pertunjukan dangdut dalam pesta pernikahan hanya bisa dilakukan orang-orang berduit, dengan organ tunggal siapa pun bisa menyajikan hiburan dangdut, betapa pun berbedanya kualitas prestise itu.

Juga tak bisa ditapik, kehadiran organ tunggal tampaknya memang sedikit banyak telah membuat sempitnya peluang bagi seni-seni tradisi. Orang atau sang punya hajat sepertinya malu atau pun gengsi ketika menghadirkan dambus lengkap dengan tampilan penarinya. Yang itu sudah barang tentu akan berakibat pada peluang seni tradisi untuk lebih berkembang dan dapat diterima oleh masyarakat.

Jadi pilih mana, organ tunggal atau dambus untuk hiburan pada resepsi pernikahan anak Anda?

(Dimuat di Bangka Pos, Senin, 21/01/2013)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s